39

Tak terasa sebentar lagi akan segera memasuki usia kepala empat. Itu berarti saya sekarang berada di ujung usia tiga puluhan. Satu dekade ini penuh dengan petualangan yang hebat dan juga penuh dengan momen emosional. Jika kembali ke awal usia tiga puluhan, saat itu saya sangat antusias sekali. Dekade yang bisa dikatakan sebagai fase “dewasa” yang sesungguhnya. Tapi apakah benar? Ya, sudah pasti benar. Dewasa dengan artian kita tahu setiap risiko yang kita ambil. Walau terkadang ada banyal hal yang membuat kita tidak siap menghadapinya. Namun dari situlah kita “belajar untuk menjadi dewasa”.

Lalu, apa yang saya dapatkan selama dekade ini? Dari sekian banyak hal, mungkin “menjadi bijak” adalah pembelajaran utama selama usia tiga puluhan saya. Sebab menjadi dewasa yang bijak itu tidak mudah. Apalagi dengan status sudah kepala tiga, kita semakin dituntut untuk bisa mengambil keputusan secara bijak, bertingkah laku dengan bijak, hingga hidup yang bijak untuk diri sendiri dan orang lain. Seakan beban kita menjadi semakin berat. Tapi memang itulah yang saya alami.

Satu dekade ini saya menemui banyak hal baru, yang pastinya akan jadi “bekal” untuk memasuki dekade berikutnya. Mulai dari kesehatan, keuangan, pekerjaan, kehidupan keluarga, lingkungan pertemanan, hingga diri sendiri.

Di usia tiga puluhan saya makin sadar dengan namanya investasi untuk tubuh. Artinya ketika nanti saya kelak akan jadi lanjut usia, saya ingin tetap bisa mandiri dan tidak jadi beban orang lain, apalagi keluarga saya. Saya pun mulai bergabung dengan pusat kebugaran, membeli vitamin dan suplemen kesehatan, mencoba menjaga makanan yang masuk ke dalam tubuh (meski ini banyak curangnya), sampai mencoba untuk bisa mengalahkan tantangan diri saya sendiri. Ya, saya mencoba untuk mengikuti acara lari. Awalnya berhasil mengalahkan diri sendiri di jarak lima kilometer, hingga kemudian mampu finish di jarak sepuluh kilometer.

Demikian pula dengan masalah keuangan. Saya akui, ini termasuk hal yang berat. Apalagi di usia seperti sekarang ini, ada rasa ingin menunjukkan bahwa kita sudah berhasil. Apalagi secara tidak sadar ada “tekanan dari lingkungan”. Untuk hal ini saya mencoba untuk mengerem agar tidak kebablasan. Meski di dalam hati tetap ada keinginan untuk show off. Terlepas dari itu, di dekade ini saya berhasil memiliki sepeda motor impian saya (dan sudah lunas, rasanya lega sekali). Tapi saya masih ada pekerjaan rumah besar, yaitu memiliki tempat tinggal. Semoga impian ini bisa terwujud di dekade berikutnya.

Untuk masalah karir, tentu ada banyak cerita. Satu hal yang paling menonjok saya adalah terkena PHK. Tapi itu tak membuat saya berkecil hati. Saya yakin, itu jadi pembelajaran yang sangat berharga untuk perjalanan karir saya. Walau begitu, selama dekade ini saya banyak belajar dari tempat saya bekerja. Saya bersyukur bisa berkarir di perusahaan-perusahaan multinasional, sebab saya jadi belajar untuk mengenal orang lain yang bukan berasal dari lingkungan yang sama. Demikian pula belajar dari teman kerja yang karakternya berbeda-beda. Dari situlah saya belajar untuk menjadi sosok yang kita inginkan di tempat kerja. Belajar dari kesalahan, belajar dari contoh yang tidak baik, sampai belajar untuk tetap bisa menjadi pribadi yang rendah hati di lingkungan kerja.

Itu juga sama halnya dengan pertemanan. Mungkin tak banyak orang baru dalam hidup saya. Teman atau bahkan yang saya anggap sebagai sahabat pun dapat dihitung dengan jari di satu tangan. Beruntung saya memiliki pertemanan yang baik, suportif, dan nyata. Saya berharap hingga nanti kakek-nenek pun kami bisa berkumpul dan menertawakan hal-hal yang perlu ditertawakan dalam hidup kami.

Lalu tentang keluarga. Untuk yang satu ini, cukup saya sendiri yang tahu. Tapi, semakin kita bertambah usia akan ada tanggung jawab yang akan dibebankan kepada kita. Baik yang sudah berkeluarga, akan berkeluarga, atau yang memang tidak ingin berkeluarga. Intinya jangan terlalu melihat rumput tetangga. Lakukan apa yang membuat keluargamu bahagia dengan caramu sendiri.

Dan untuk masalah pribadi. Pastinya adanya banyak hal yang akan terjadi ketika kita semakin bertambah usia. Termasuk urusan hati hingga mental saya. Ada banyak hal yang harus dikompromikan, baik untuk diri sendiri atau kepada hati lain yang tengah dekat dengan kita. Demikian juga dengan kebahagiaan diri sendiri. Sama seperti di atas tadi, jangan terlalu melihat rumput tetangga. Kalau tidak, mungkin saya sendiri akan lebih banyak diliputi perasaan cemas dan depresi. Apalagi media sosial menjadi semakin menggeliat ketika saya memasuki usia tiga puluhan.

Jika saya melihat kembali ke masa ini dari awal, rasanya ada yang ingin saya ubah. Tapi justru setiap goresan, baik yang bagus atau jelek itu membentuk saya seperti sekarang ini. Kelak itu akan jadi pembelajaran saya untuk dekade berikutnya.

Sama seperti harapan ketika saya hendak memasuki usia 30an, semoga di dekade berikutnya akan ada banyak petualangan baru. Saya tak sabar menunggunya.

Terima kasih untuk satu dekade yang luar biasa hebatnya. Terima kasih atas tiga puluh sembilan.

Leave a comment