40

Saya menulis unggahan ini seminggu sebelum saya resmi menyandang kepala empat. Tadinya saya tidak terlalu bersemangat untuk menulis tentang unggahan ini (yang sudah menjadi tradisi ketika saya berulangtahun). Apalagi dengan jadwal pekerjaan yang cukup padat (ah, saya sampai lupa menulis tentang cerita perjalanan saya ke Tokyo, Jepang di akhir tahun lalu, ini akan jadi hutang saya). Tapi akhirnya niat itu muncul karena ini adalah momen penting yang menandai masuknya saya ke era kepala empat. πŸ™‚

Layaknya mbak Taylor yang membuat konser untuk menandai setiap era, kali ini saya mau menulis tentang perjalanan satu dekade ke belakang, yang menandai setiap era di usia kepala tiga saya.

Mari kita masuk ke mesin waktu dan kembali ke masa lalu, saat saya memasuki kepala tiga. Ketika itu saya sempat menulis, jika masuk kepala tiga adalah momok bagi yang mengagungkan “masa muda” alias energiknya usia 20an. Tapi nyata, saya malah tak sempat memikirkan betapa menyeramkannya usia 30an. Mungkin karena saya terlalu capek dengan kencangnya roller coaster 30an yang saya lalui, Ketakutan itu justru hilang dengan sendiri di antara teriakan-teriakan yang muncul saat di perjalanan saya.

Saya menambahkan satu tato di tubuh saya, tepatnya di bagian rusuk kiri saya. Gambarnya jangkar dengan angka romawi 30, ruas tali berjumlah 30, dan tulisan “Batavia” yang menandai di mana saya berada saat itu. Saya juga untuk pertama kalinya ikut kursus pastry di Bogasari. Belajar membuat croissant sampai membuat roti dan Taiwanese bread. Sebuah pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Namun di saat itu pula saya harus kehilangan papa saya. Beliau meninggal tepat di awal tahun karena serangan jantung.

Saya ingat betul saat saya dihubungi tante saya jika papa masuk UGD karena serangan jantung. Saya juga harus memutuskan tindakan medis untuk papa saya saat itu dan kesempatan hidupnya saat itu 50:50. Saya sempat berujar ke papa kalau saya belum sukses selama papa hidup dan belum bisa kasih apa-apa ke beliau. Papa lalu bilang, nanti papa lihat kamu sukses dari “atas” sana. Saya cuma berharap papa saya sehat, meski kemudian masuk ICCU dan ICU, dan beliau menghembuskan napas terakhir.

Saat itu juga mulai memberanikan untuk belajar menyetir mobil dan ketika saya berulangtahun ke 31, saya membuat tato bergambar jantung sebagai pengingat bahwa saya harus sehat dan mengenang papa dan kakak saya yang keduanya meninggal karena sakit jantung. Saya mulai belajar membuat kue dan memberanikan diri untuk menjualnya ke teman-teman kantor. Hingga saya akhirnya memutuskan untuk berhenti kerja dan berjualan kue.

Berjualan atau berbisnis memang ternyata cukup berat. Tapi saat itu saya cukup menikmati setiap prosesnya. Kala itu saya sudah berusia 32 tahun. Saya membuat merek kue “Bananagasm” dan menjual kue brownies pisang yang dibuat dari tepung singkong. Seperti yang saya bilang tadi, berbisnis itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Saya pernah harus gestun atau gesek tunai agar bisa mendapatkan uang tunai untuk membayar sewa tempat tinggal dan kebutuhan saya sehari-hari. Di balik itu, saya sempat membuat kue ulang tahun dan kue pernikahan untuk beberapa otang. Termasuk untuk sahabat saya Ririh, saya membuat kue pernikahannya di Ambarawa.

Tak hanya itu, saya sempat ikut kompetisu UMKM dan masuk ke dalam 100 besar, jadi model untuk iklan Sumpah Pemuda di Indovision (berbarengan dengan anggota Paskibra dan atlet martial arts). Lalu masuk di dua edisi Tabloid Wanita Indonesia dan tampil di Liputan6 Pagi di SCTV. Momen yang mungkin tak akan terulang lagi di masa mendatang. Akhirnya memutuskan berhenti berjualan karena harus fokus bekerja (ya, saya kembali bekerja karena saya berjanji untuk membiayai sekolah keponakan saya) dan saya sendiri kewalahan dengan segala sesuatu yang harus saya lakukan sendiri.

Masuk ke usia 33 tahun ada kejadian luar biasa yang mengubah hidup saya. Tak perlu saya ceritakan di sini, tapi momen ini membuat saya sempat “kebingungan”. Namun seiring berjalannya waktu saya bisa melaluinya dan tetap sehat hingga sekarang. Saya belajar banyak bagaimana menghargai diri saya sendiri. Saya juga mulai tertarik dengan segala sesuatu tentang Studio Ghibli. Puncaknya saya datang ke The World of Ghibli Jakarta. Bahkan saya berjanji pada diri saya sendiri, kelak saya ingin berkunjung ke Museum Ghibli yang ada di Jepang. Dan akhirnya bisa terwujud enam tahun kemudian. Saya juga cukup sering mengulas tentang film-film Studio Ghibli yang saya tonton.

Saya juga mengajak mama saya untuk tinggal bersama saya di Jakarta. Saya ajak mama juga untuk jalan-jalan ke Bali untuk pertama kalinya. Oya, saat itu juga saya mulai tertarik dengan walking tour di sekitar Jakarta dan akhirnya saya membeli kamera mirrorless karena ingin menangkap momen menarik saat saya berjalan-jalan.

Masuk ke usia 34 tahun. Hmm, mungkin yang paling signifikan adalah untuk pertama kalinya saya mengajak keluarga saya untuk membuat foto keluarga (yang setiap tahunnya saya lakukan, hanya abses di tahun lalu). Lalu mengajak mama saya ke Malang dan Bromo. Oya, saya jadi teringat. Saya melewati badai sakit hati terberat dalam hidup saya karena saya “ditinggalkan” seseorang. Tapi ya sudahlah, akhirnya bisa melewatinya dan sekarang saya bahagia dengan hidup saya. Saat itu saya langsung pergi berlibur ke Sabah, Malaysia sendiri (bahkan menyetir mobil sendiri di sana).

Setahun berikutnya, tepat di usia 35 tahun. Saya memutuskan berpindah kerja. Kala itu juga terjadi sebuah kejadian, hilangnya teman kerja saya (yang kemudian ditemukan setelah beberapa tahun lamanya). Saya juga untuk pertama kalinya ikut lari 5K (gara-gara banyak rekan kantor saya yang suka lari). Saya jadi keranjingan ikutan acara lari dan lanjut untuk mencoba lari 10K untuk pertama kalinya. Malahan juga untuk pertama kalinya bergabung di tempat gym dekat kantor saya. Kalau bicara tentang jalan-jalan, itu juga kali pertama saya ke Singapura.

Di usia 36 tahun, pandemi mulai melanda. Tak banyak yang saya lakukan, selain kerja dari rumah, lari sekitar rumah, dan sesekali pergi ke luar untuk melihat kota Jakarta dalam keadaan sepi. Saya juga memberanikan membeli motor saat itu. Motor yang membawa saya ke mana-mana. Senang sekali saya akhirnya bisa memiliki kendaraan sendiri.

Saat memasuki 37 tahun, saya memutuskan pindah kerja ke perusahaan e-commerce yang berada di SCBD. Meski kemudian saya terkena PHK setahun kemudian. Tak hanya itu, mama saya mulai sakit. Demikian pula saat masuk usia 38 tahun, tak banyak hal baru. Saya sempat pergi ke Singapura, kembali mengikuti acara lari dan ketika usia 39 tahun saya untuk pertama kalinya mengikuti Half-Marathon di Bandung.

Setelah kejadian PHK di kantor sebelumnya, saya kembali terkena PHK di kantor yang baru. Terkejut pastinya, tapi mau bagaimana lagi. Mungkin karena saya pernah mengalami sebelumnya, untuk kali ini saya bisa lebih siap. Walau belum mendapat kerja, saya tetap memutuskan untuk berlibur ke Tokyo, Jepang bersama pasangan saya. Terakhir kami berdua berlibur ke Ho Chi Minh City dan Hanoi, Vietnam.

Dan sekarang, masuk ke kepala empat. Adakah harapan yang ingin diwujudkan? Pastinya ada. Ada banyak, tapi tetap berusaha realistis dengan keadaan. Mulai dari punya tempat tinggal sendiri, bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi, bisa mengeksplorasi tempat-tempat baru, bisa membahagiakan orang-orang yang saya sayangi, tetap jadi sehat dan bugar, dan ingin memecahkan rekor diri sendiri dengan ikut lari Full Marathon.

Walau satu dekade kemarin terkesan biasa-biasa saja, tapi ada banyak hal yang menjadikan saya seperti sekarang ini. Seperti yang sudah-sudah, saya ingin mengucapkan syukur atas satu dekade yang luar biasa ini. Kini ada satu dekade baru yang hendak saya lalui. Kepala empat, seharusnya bisa lebih kalem dan tenang. Semoga semesta selalu memberikan jalan yang terbaik untuk saya ke depannya. Selamat tinggal 30an, dan selamat datang 40an. Terima kasih semesta!

Leave a comment