MALANG: Wisata Kuliner di Kota Malang

Puas menginap dan berkeliling di Kota Batu, agenda berikutnya adalah wisata kuliner di Kota Malang. Di hari ketiga, saya check-out dari hotel dan langsung menuju ke Kota Malang dengan naik ojol. Sesampainya di Hotel Sahid Montana, saya segera check-in dan melanjutkan perjalanan ke beberapa lokasi kuliner. Pemberhentian pertama adalah Bakso Cak Toha Cabang Semeru 24 di daerah Klojen. Bakso Cak Toha mirip dengan kebanyakan bakso di Kota Malang.  Selain bakso urat, kalian bisa memilih isiannya mulai dari pangsit, gorengan dan siomay. Kuahnya terbilang ringan, namun tetap terasa gurih. Sebenarnya saya ingin mencoba Bakso President yang tersohor itu, tapi sepertinya sudah “overrated” jadi saya mencoba pilihan lainnya. Walau begitu Bakso Cak Toha pun tak kalah enak. Sangat direkomendasikan jika kalian ke Kota Malang.

Keliling Kampung

Puas makan bakso, lokasi berikutnya bukanlah tempat kuliner. Tapi kampung kekinian yang dipenuhi dengan bangunan warna-warni. Tujuan pertama adalah Kampung Biru Arema. Sesuai namanya, kampung ini didominasi dengan bangunan yang dicat warna biru.  Warna ini lekat dengan tim sepak bola legendaris asal Malang, Arema. Jadi jangan kaget jika kalian akan menemukan logo dan juga patung singa yang menjadi ikon klub ini. Untuk masuk kita cukup membayar Rp3.000 per orang dan langsung mendapatkan gantungan kunci berwarna biru. Kampung ini berada di sisi barat Jembatan Brantas atau tepat di pinggir Sungai Brantas. Kampung ini juga bertetanggaan dengan Kampung Tridi yang berada di Kelurahan Ksatrian dan Kampung Warna-Warni di Kelurahan Jodipan. Dulu ketiga kampung ini terbilang kumuh dan kotor, namun sejak direvitalisasi, ketiga kampung ini pun berubah menjadi lokasi tujuan wisata.

Nah beralih ke Kampung Tridi. Untuk masuk, kita cukup membayar Rp3.000 dan kita akan mendapatkan gantungan kunci. Sebenarnya kondisi kampung ini tak jauh berbeda dengan tetangganya, yaitu Kampung Warna-Warni. Sebab seluruh bangunan dicat dengan warna-warna yang cerah. Hal yang membedakan itu terletak dari mural-mural yang tampak seperti 3 dimensi. Saya sendiri tak banyak menemukannya selama di dalam kampung ini. Mungkin saya kurang dalam menelusurinya. Di atas sungai yang memisahkan kedua kampung ini, berdiri jembatan kaca yang diklaim sebagai yang pertama di Indonesia. Namun sayang, kacanya sudah mulai buram dan kita tidak bisa melihat secara jelas aliran sungai yang ada di bawahnya. Oya, jembatan ini juga sering disebut dengan Jembatan Kaca Ngalam. Di seberangnya, terdapat Kampung Warna-Warni. Di sini kita juga kembali membayar Rp3.000 dan mendapatkan stiker. Situasinya kurang lebih sama dengan Kampung Tridi. Lokasi ini cocok buat yang suka berswafoto. Tapi kalau menurut saya, yang paling berkesan adalah Kampung Biru Arema.

Berburu Makanan Khas

Berhubung lokasinya tak jauh dari lapak bakpao legendaris di Malang, saya langsung mencari ojol untuk menuju ke Bakpao Boldy Malang. Bakpao legendaris ini telah ada sejak 1950 dan disebut ‘Boldy’ karena lokasinya yang berada di Jalan Boldy, Malang atau saat ini dikenal dengan Jalan Mangun Sarkoro. Jangan kaget ketika sampai ke lokasi ya, karena bukan berbentuk warung atau gerobak. Justru sebuah rumah tua tanpa papan penunjuk. Beruntung ada salah satu karyawannya yang melihat kami datang. Rumah ini mungkin semacam pabrik yang memproduksi bakpao. Di sini hanya ada papan menu kecil dan kami diminta menunggu sampai pesenan kami jadi. Varian dari isi bakpaonya bermacam-macam, mulai dari ayam cincang, ayam kecap, babi bincang, babi kecap, tausa atau kacang hitam, kacang hijau dan kacang tanah. Saya langsung memesan babi cincang sebanyak 5 buah untuk dibawa pulang.

Berhubung masih sore, saya melanjutkan menuju ke Toko OEN. Toko kue ini salah satu yang legendaris di kota ini. Dibuka sejak 1930, toko OEN merupakan satu dari beberapa toko yang ada di Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta. Tinggal toko yang berada di Semarang dan Malang yang masih berdiri. Bangunan toko ini memang sangat khas. Etalase dan furniturnya masih dipertahankan seperti masa kolonial. Menu-menu pun tak kalah klasik, ada berbagai jenis roti dan kue kering khas Belanda seperti speculaas, havermout, dan kaastengel, serta berbagai kue basah khas Indonesia. Selain itu juga ada menu makanan, seperti makanan pembuka, sup, masakan oriental, burger dan sandwich, salad, steak, dan masakan Nusantara. Beberapa yang terkenal enak adalah nasi goreng dan nasi semur lidahnya. Sayangnya saya sudah cukup kenyang sore itu, jadi hanya memesan es krim saja. Saya memesan es krim special Oen dan ibu saya memesan es krim peach. Es krim di sini dibuat sendiri dengan resep turun-temurun. Kalau tidak suka rasa es krim yang terlalu manis, mungkin lidah kalian tidak terlalu cocok dengan es krim buatan toko OEN.

Makanan Legendaris

Perut sudah penuh dan akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke hotel. Malamnya, saya mengajak teman saya yang sudah lama tinggal di Malang. Tujuan pertama adalah Depot Hok Lay yang berdiri sejak 1946. Malam itu suasana depot tak terlalu ramai, saya dan teman saya mendapatkan tempat duduk yang cukup strategis.  Kalau dilihat dari furniturnya, beberapa masih dipertahankan seperti suasana pertama kali depot dibuka. Lalu apa saja menu yang bisa kita pesan di sini? Tentunya jangan lupa untuk memesan es fosco atau susu murni yang dicampur dengan cokelat. Apa sih istimewanya? Cara penyajiannya yang membuat es fosco menjadi unik, yaitu disajikan di botol minuman soda (Coca Cola). Walau begitu, rasanya tetap susu kok karena memang tidak dicampur dengan minuman soda. Selain itu ada cwie mie yang ditaburi dengan ayam cincang, bawang goreng, daun bawang, serta pangsit goreng. Satu lagi yang tak ketinggalan, walau ini di Malang tapi saya memesan lumpia Semarang yang juga jadi menu andalan depot ini. Meski jujur, saya tetap lebih memiliki lumpia asli Semarang sebagai juaranya. Dengar-dengar lumpia ini sengaja disesuaikan dengan lidah orang Malang yang cenderung suka yang asin-asin.

MALANG073
Bersama teman SMA saya, Lely

Nah, yang berikutnya tentu jangan sampai dilewatkan. Kami berjalan kaki menuju ke Ronde Titoni yang tak jauh dari Depot Hok Lay. Wedang ronde memang pas untuk cuaca dingin di Malang, apalagi ketika malam tiba. Ronde ini juga termasuk kuliner legendaris loh. Sudah ada sejak 1948. Dulunya mereka berjualan di kawasan Titoni, dan akhirnya lahir nama Ronde Titoni ini. Rondenya sendiri ada dua jenis, pertama ronde basah yang disajikan dengan kuah, dan kedua ronde kering yang dipadukan dengan bubuk kacang. Kalau saya sih lebih memilih ronde basah, karena kuahnya menggunakan kuah jahe. Jadi pas untuk menghangatkan badan. Selain wedang ronde, mereka juga menjual wedang angsle. Wedang ini menggunakan kuah santan, berbeda dengan wedang ronde yang tanpa santan. Sembari menikmati wedang ronde, kita juga bisa menikmati roti goreng atau cakwe. Berhubung nanti tengah malam saya akan dijemput untuk wisata ke Bromo. Kami pun tak berlama-lama dan segera kembali ke hotel.

Post-Bromo Kuliner

Berhubung kami tidak sempat naik gunung, jadwal untuk sampai di Kota Malang pun menjadi lebih cepat. Jadi kami bisa tidur sejenak sebelum mulai jalan-jalan mencicipi kuliner khas Malang. Selepas tengah hari, kami memulai perjalanan dengan menuju Warung Tahu Lontong “Lonceng” Panca Budhi. Berhubung lokasinya dekat dengan rumah duka bernama sama “Panca Budhi”, supir ojol yang mengantarkan saya awalnya mengira kami akan melayat tapi ternyata sedang mencari tahu lontong. Hehe. Walau dekat dengan rumah duka, suasana tempat berjualannya tak seseram yang dibayangkan kok. Oya, nama lonceng sendiri diambil dari tugu lonceng dekat tahu lontong ini pertama kali berjualan. Kini lokasinya berada tepat di seberang Klenteng Eng An Kiong dan bersebelahan dengan Rumah Duka Panca Budhi. Ada dua jenis menu yang ditawarkan, tahu telur atau tahu saja. Selain itu kita juga bisa memilih menggunakan lontong atau nasi. Rasanya memang tak berbeda jauh dengan tahu lontong kebanyakan. Tapi usianya yang justru istimewa, karena sudah ada sejak 1935.

Perjalanan saya lanjutkan ke Rumah Makan Rawon Nguling. Dari sekian banyak warung rawon, saya akhirnya memilih Rawon Nguling karena lokasinya lebih dekat dan sudah cukup dikenal. Meski terkenal di Malang, Rawong Nguling justru berasal dari Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan pada 1942. Awalnya namanya Depot Lumayan dan karena menu yang disukai pengunjungnya adalah nasi rawong, sejak itulah mereka lebih mengenalnya sebagai Rawon Nguling. Hingga pada 1983, Ibu Sri, salah satu adik Mbah Lik yang menjadi perintis Rawon Nguling ini pindah ke Malang dan membuka cabang di sini. Resepnya masih asli dengan aneka rempah-rempah dan kluwek yang menjadi ciri khas rawon. Berhubung saya sudah sering makan rawon, saya kemudian memilih Rawon Tutup Dengkul (atau mungkin bagian kaki sapi). Selain rawon, di meja juga disediakan beraneka macam lauk, seperti tempe, mendol, perkedel, empal, paru, dan babat. Tinggal pilih sesuai selera ya.

Selepas makan di Rawon Nguling, hujan pun turun. Beruntung saya segera mendapatkan ojol. Tujuan berikutnya adalah menuju ke Keripik Tempe Andhika, yang kata ibu saya rasa keripiknya enak ketimbang toko oleh-oleh lainnya. Lokasinya memang agak sedikit jauh, yaitu di daerah Blimbing. Ya berhubung ibu saya ingin membeli keripik ini, kami pun menerjang hujan menuju ke sini. Sesampainya di sini, kita bisa memilih beberapa varian keripik tempe, mulai dari yang rasa original, balado, dan beberapa rasa lainnya. Bingung bawanya? Tenang, mereka sudah menyiapkan kardus mudah untuk dibawa. Tidak mau kalah dengan ibu saya, saya pun ikut-ikutan membeli oleh-oleh, seperti keripik tempe dan keripik apel Malang. Urusan oleh-oleh sudah selesai. Badan masih pegal karena baru pulang dari Bromo. Kami bergegas kembali ke hotel untuk beristirahat.

Jalan-Jalan  Malam  di Malang

Setelah tidur siang yang cukup lama, malamnya saya mengajak ibu saya ke Malang Night Paradise. Tapi sebelum ke sana, saya ingin mampir dulu ke salah satu kuliner legendaris Malang, yaitu Puthu Lanang. Jajanan khas Malang ini sudah ada sejak 1935 dan bahkan namanya sudah ada hak paten dan ciptanya. Bukanya sekitar jam setengah 6 sore dan bersiaplah karena kalian harus mengantri panjang. Beruntung saya datang sekitar jam 6 sore, jadi belum terlalu ramai. Tinggal pesan saja dan menunggu pesanan kita dibungkus (hebatnya, yang jual hapal sekali setiap pesanan kita). Tapi tak hanya kue puthu saja yang dijual di sini, ada klepon, lupis dan cenil. Semua dijadikan dengan parutan kelapa dan siraman saus gula merah. Kalau semisal ingin dikonsumsi keesokan harinya, minta untuk memisahkan parutan kelapanya.

MALANG082

Setelah “membeli bekal”, malam itu kami menuju ke Malang Night Paradise. Kalau yang saya baca dari ulasan-ulasan, taman bermain ini mirip dengan Batu Night Spectacular. Nah karena kemarin di Batu saya kehujanan, saya ingin mengobati rasa kecewa saya dengan menuju ke Malang Night Paradise. Lokasinya sendiri memang agak jauh dari pusat kota, bahkan bersiaplah terkena macet karena jalurnya adalah jalur menuju ke Surabaya. Malang Night Paradise berada di dalam kawasan perumahan Graha Kencana Raya, jadi jangan heran ketika kita menuju ke sini akan melintasi rumah-rumah yang besar. Jam operasionalnya mulai 5 sore hingga 11 malam. Sebenarnya daya tarik utama taman bermain ini adalah Taman Lampionnya. Sudah pasti akan ada banyak yang berswafoto di sini. Selain itu ada Taman Dinosaurus, yang kalau menurut saya tidak jauh berbeda dengan yang ada di Jatim Park 3. Tapi ada satu wahana yang jangan sampai terlewatkan (walau agak sedikit mengantri), yaitu wahana naik perahu “Magic Journey”. Seru karena kita menyusuri sungai buatan dengan perahu yang didayung (bukan kita yang mendayung ya) selama 30 menit. Setiap lorong dibuat dengan tema yang berbeda-beda dan ditambah dengan permainan lampu warna-warni. Di setiap titik akan ada fotografer yang akan memotret kita. Jadi sesuai menyusuri sungai, kita bisa mencetak foto yang kita inginkan. Selain tiga wahana tadi, ada beberapa wahana permainan. Saat saya datang memang tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan akhir pekan. Tapi saya jadi menikmati taman bermain ini dengan lebih leluasa.

Sesampai di hotel, perut langsung keroncongan. Tapi rasanya malas sekali untuk keluar dari hotel. Beruntung ada Go-Food di kota Malang. Meski sempat bingung ingin memesan apa, akhirnya pilihan jatuh ke Mie Remaja Surabaya. Jaraknya ternyata tidak jauh dari hotel. Saya memesan Nasi Goreng dan Mie Goreng. Tak lama pesanan kami pun datang dan wangi nasi goreng langsung semerbak di dalam kamar. Porsinya sangat banyak, bahkan ibu saya tidak habis dan memberikan sisanya kepada saya. Soal rasa, lumayan enak. Apalagi sudah lama tidak mencicipi masakan khas Jawa Timur (nasi gorengnya berwarna merah). Perut pun kenyang, hati senang, dan akhirnya kami bisa tidur dengan tenang.

Mengisi Perut Sebelum Pulang

Hari ini adalah hari terakhir kami berlibur di Kota Malang. Sebelum pulang ke ibukota, kami menyempatkan untuk mencicipi beberapa makanan khas. Pertama, kami menuju ke salah satu warung soto terkenal di kota Malang. Namanya Soto Ayam Lombok. Tapi jangan mengira rasa soto ayam ini pedas dengan banyak “lombok” atau cabai ya. Nama soto ini justru diambil dari nama jalan tempat soto ini pertama kali berjualan. Soto ayam legendaris ini sudah ada sejak 1955 dan cabangnya sudah menyebar di beberapa wilayah, hingga ke Surabaya. Dibandingkan soto ayam lainnya, soto di sini termasuk lengkap isiannya dan cukup berisi. Semangkuk soto Lombok terdiri dari telur rebus, irisan kol, tauge, kentang, dan daging ayam kampung. Kuahnya kental dan ditaburi dengan koya. Kalau menurut saya, agak mirip dengan soto Lamongan. Tapi soto Lombok ini memang mengenyangkan sekali.

Walau perut sudah “agak” penuh, kami kemudian menjelajah kota untuk mencari Pecel Kawi Hj. Musilah yang terletak di Jalan Kawi. Warung makan yang berdiri sejak 1975 ini didirikan oleh Hj. Musilah dan diteruskan secara turun-menurun. Meski hanya menjual pecel, jangan dikira warungnya biasa-biasa saja. Interior warungnya sangat bersih dan memiliki tambahan ruang di lantai atas. Banyak wisatawan yang datang, bahkan ada juga yang datang berombongan. Selain menjual nasi pecel, warung ini juga menjual makanan khas Jawa Timur, seperti Nasi Rawon dan Nasi Soto. Tapi sayang jika tidak mencicipi menu pecelnya. Seporsi Nasi Pecel berisikan tempe, rempeyek, kangkung, tauge, kacang panjang, kembang turi, dan isian sayur lain dengan siraman saus kacang yang khas. Kita juga bisa menambah lauk-pauk, seperti tempe atau tahu bacem, empal, dan beberapa lauk lainnya.

MALANG087

Selesai dari Pecel Kawi, kami berniat mencari Orem-orem Arema. Namun sayangnya, hari Jumat banyak warung yang tutup. Mungkin karena mereka hendak beribadah salat Jumat. Orem-orem khas Malang itu sebenarnya adalah makanan berbahan dasar irisan tempe yang dimasak bersama santan dan disajikan dengan ketupat iris yang diberi tauge, tempe dan disiram kuah sayur kuah santan. Mungkin lebih mirip dengan Lontong Sayur khas Betawi. Sayangnya saya belum sempat mencicipinya. Lain kali akan kembali saya jelajahi Malang dan mencoba seporsi Orem-orem. Berhubung sudah tidak ada lagi destinasi kuliner yang hendak kami kunjungi. Kami segera kembali ke hotel untuk check-out.

Oya, letak hotel saya menginap terbilang tepat di pusat kota. Tak jauh dari hotel, ada bangunan tua yang juga dijadikan sebagai hotel dan disebelahnya terdapat toko yang menjual kue dan roti jadul, namanya Und Corner atau kadang ada yang menyebutnya sebagai Roti Tugu. Nama ini memang berkaitan dengan hotel yang mengelolanya, yaitu Hotel Tugu (yang katanya rada serem). Suasana toko roti ini memang dipenuhi nuansa kuno, mulai dari etalasenya, furnitur, hingga poster-poster yang menghiasi dinding toko ini. Apa saja yang dijual di sini? Mulai dari roti dan kue dengan citarasa lawas seperti roti bluder, lalu aneka buah segar, serta oleh-oleh khas Malang. Katanya sih mereka juga menjual es putar dengan resep kuno. Namun karena perut sudah terlanjur kenyang dan hanya mencari oleh-oleh, saya tidak sempat mencicipinya. Tapi layak dicoba jika berkunjung ke sini.

Setelah berkemas dan check-out dari hotel. Kami langsung menuju ke Bandar Udara Abdulrachman Saleh. Cuaca mendadak gerimis ketika kami sampai ke dalam ruang tunggu. Hujan sepertinya akan deras. Beruntung saat kami hendak memasuki pesawat, hujan reda dan kami bisa take-off dengan sempurna. Terima kasih Malang untuk semua cerita menariknya. Semoga di lain waktu, saya bisa kembali mengunjungimu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s