MALANG: Fajar di Gunung Bromo

Bromo adalah alasan utama saya untuk jalan-jalan ke Malang. Apalagi gunung setinggi 2.329 mdpl ini terkenal hingga mancanegara. Rasanya saya harus mencoba untuk minimal sekali ke Bromo. Sebulan sebelumnya saya mencoba mencari informasi tentang tur menuju kawasan Bromo. Mulai dari bertanya kepada teman kantor yang pernah ke Bromo, mencari melalui internet, hingga bertanya kepada teman SMA saya yang tinggal di Malang. Setelah bertanya kepada 3 agen tur, akhirnya saya menjatuhkan pilihan kepada agen tur yang berbasis di daerah Tumpang, Kabupaten Malang.

Lalu, apa yang membedakan agen tur ini? Jadi sebenarnya ada agen tur yang menawarkan paket open trip dengan harga yang lebih murah (rata-rata Rp200-300 ribuan), tapi tentunya kita akan berangkat bersama dengan peserta tur yang lainnya. Lalu ada juga private tour yang harganya jelas lebih mahal (tapi akan menjadi murah jika jumlah pesertanya banyak). Tapi berdasarkan pertimbangan bahwa saya pergi bersama ibu saya, akhirnya saya memilih private tour. Tentunya untuk waktu jadi lebih fleksibel dan tidak diburu-buru untuk menuju ke satu lokasi ke lokasi lainnya. Oya, private tour juga ada beberapa pilihan. Ada yang bisa membawa tamu minimal 2 orang, ada juga yang hanya bisa berangkat dengan jumlah minimal 4 orang. Fasilitas yang didapat antara lain antar jemput (bisa jemput di Malang, atau bahkan dari Surabaya), mobil jeep untuk menuju ke Bromo, dan tiket masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ada juga yang menambahkan fasilitas sarapan gratis. Jika ingin menggunakan agen tur yang  saya gunakan, bisa hubungi saya melalui email. Sebagai gambaran, untuk private tour dua orang saya harus membayar Rp575.000 per orang.

Perjalanan Ke Meeting Point

Cerita keberangkatan saya ke Bromo juga tak lepas dari “drama”. Pagi hari sebelum saya menuju ke Malang dari Batu, saya mencoba menghubungi sang agen tur. Tapi tidak ada balasan. Saya hanya ingin memastikan jika keberangkatan saya adalah malam nanti. Sore harinya akhirnya sang agen tur menghubungi, dan benar jadwalnya saya bukan malam ini. Beruntung sang agen tur membantu kami agar tetap berangkat malam ini.

Walau sempat ketiduran, tepat di tengah malam, sang agen tur menjemput langsung dari hotel. Kami dijemput dengan mobil minibus menuju ke daerah Tumpang. Lokasi ini menjadi meeting point kami, yang selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil jeep. Kami diantar oleh Mas Agus, supir pengganti sang agen tur (yang seharusnya mengantarkan kami, namun berhubung baru pulang dari luar kota, akhirnya dia memberikan supir pengganti). Saat itu ada dua rombongan yang berangkat dari meeting point. Hanya rombongan saya yang terdiri dari dua orang.

Perjalanan malam itu diwarnai dengan hujan yang tidak berhenti turun. Sedikit khawatir juga, apakah saat di atas nanti juga akan hujan? Bisa-bisa harapan untuk melihat Gunung Bromo pupus sudah. Apalagi sudah ada berita bahwa Bromo sedang erupsi, walau masih aman untuk didatangi. Bisa saya ketika di atas nanti, gunung ini tiba-tiba meletus. Dalam hati saya berdoa agar bisa diberikan kesempatan untuk bisa menyaksikan gunung ini secara langsung. Perjalanan menggunakan mobil jeep memang cukup mendebarkan, apalagi jalannya kecil dan menanjak. Beruntung supir kami cukup sigap. Sekitar jam 2 atau 3 pagi, kami memasuki pintu taman nasional. Kami kemudian melanjutkan perjalanan melalui lautan pasir atau Segara Wedi. Di sini juga makin mendebarkan karena lautan pasir ini berubah menjadi semacam sungai-sungai kecil yang membuat jalan jadi naik turun. Apalagi ada semacam selokan yang harus kami lalui, mungkin itu pula yang mengharuskan kami menggunakan mobil jeep. Sebenarnya jika bukan musim penghujan, lautan pasir ini permukaannya lebih datar, namun lebih berdebu. Kami juga sempat melalui abu vulkanik yang disemburkan Gunung Bromo. Kala itu arahnya menuju ke arah Barat dan semacam satu jalur, sehingga tidak melebar ke arah lainnya.

Legenda Suku Tengger

Ok, sebelum saya bercerita tentang perjalanan saya ke Bromo. Mungkin ada baiknya jika saya menceritakan kisah legenda suku Tengger yang mendiami daerah Bromo. Gunung Bromo sangat identik dengan keberadaan suku Tengger. Mereka diyakini sebagai keturunan langsung dari Kerajaan Majapahit yang melarikan diri dari serangan kerajaan Islam yang dipimpin oleh Raden Patah pada abad ke-16. Sebagian masyarakat Majapahit ada yang mengungsi ke Pulau Bali, dan sebagian lainnya memilih untuk menempati sebuah kawasan pegunungan di Jawa Timur, mengisolasi diri dari pengaruh luar. Orang-orang inilah yang kelak dinamakan sebagai Suku Tengger.

Kata Tengger berasal dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu “Teng” akhiran nama Roro Anteng dan “ger” akhiran nama dari Joko Seger. Kini masyarakat Tengger menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang.

Kembali ke legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Dulu di suatu dusun ada seorang ibu yang melahirkan seorang anak perempuan. Anehnya ketika lahir, anak perempuan itu sama sekali tidak menangis. Lalu sang ibu memberi nama anaknya Roro Anteng. Roro Anteng kemudian tumbuh menjadi perempuan yang cantik dan dikagumi oleh banyak laki-laki. Meski banyak laki-laki yang meminangnya, Roro Anteng justru sudah menjatuhkan hati pada seorang laki-laki tampan keturunan Brahmana bernama Joko Seger. Namun di sisi lain, berita tentang kecantikan Roro Anteng sampai kepada seorang raksasa yang tinggal di hutan lereng Gunung Bromo yang bernama Kyai Bima. Dia kemudian meminang Roro Anteng. Hal ini kemudian membuat Roro Anteng kebingungan karena apabila tidak diterima, maka dusun mereka akan dihancurkan. Bahkan Joko Seger pun tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak bisa menandingi kesaktian Kyai Bima. Roro Anteng lalu mendapat ide, dia meminta dibuatkan danau di atas Gunung Bromo sebelum ayam berkokok. Kyai Bima pun menyanggupinya, dengan menggunakan tempurung kelapa yang besar dia lalu mengeruk tanah di Gunung Bromo. Berkat kesaktiannya, hanya beberapa kali kerukan, Kyai Bima berhasil membuat lubang besar. Roro Anteng menjadi semakin cemas. Dia kemudian menemukan ide dengan membangunkan para penduduk desa dan menyuruh para perempuan untuk menumbuk padi di lesung, sedangkan para laki-laki membakar jerami di sebelah timur agar kelihatan fajar telah terbit. Ayam pun terbangun dan berkokok. Kyai Bima yang menyangka pagi sudah datang pun kesal karena pekerjaannya tidak selesai. Dia kemudian melemparkan tempurung yang digunakannya untuk mengeruk tanah dan bertelungkup di tanah. Tempurung itu kemudian berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok. Lautan yang gagal dibuat oleh Kyai Bima kemudian dikenal dengan Segara Wedi.

Selain kisah tadi, ada pula tradisi Kasada atau upacara Yadnya Kasada yang diadakan setiap bulan Kasada hari-14 dalam penanggalan Jawa. Ritual Tradisi Kasada di Kawah Gunung bromo ini juga bermula dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Setelah mereka menikah, keduanya ternyata tidak dikaruniai anak. Joko Seger pun bersumpah jika dikaruniai 25 orang anak, maka salah satu dari anaknya akan dipersembahkan sebagai sesajen di kawah Gunung Bromo. Roro Anteng dan Joko Seger kemudian dikaruniai 25 orang anak, mereka lalu mengasuh dan mendidik hingga dewasa. Joko Seger pun lupa akan janjinya untuk mempersembahkan salah satu anaknya untuk menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo. Pada suatu malam, ketika Joko Seger tidur, Dewa menegurnya agar menepati janjinya. Joko Seger dan istrinya kemudian mengumpulkan semua anaknya dan menjelaskan janji yang pernah dia ucapkan. Si bungsu, Jaya Kusuma pun bersedia dipersembahkan. Saat hendak menceburkan diri ke kawah, Jaya Kusuma berpesan agar dirinya dikirimkan hasil ladang setiap tanggal ke 14 bulan Kesada. Peristiwa ini yang menjadi awal mula tradisi Kasada yang dilestarikan hingga kini.

Namun pada versi yang lain, Joko Seger ke Gunung Bromo untuk bersemedi agar bisa memiliki anak. Joko Seger dan Loro Anteng diberikan petunjuk apabila mereka ingin mempunyai keturunan mereka harus bersemedi di gunung yang diselimuti kabut rata di daerah Oro-Oro Ombo, tepatnya Gua Widodaren. Dalam perjalanan di Oro-Oro Ombo, tepatnya di Watu Kutho, Joko Seger harus bisa menaklukan singa terlebih dahulu sebelum menghuni di situ. Joko Seger pun mampu mengalahkan singa itu dan singa itu kemudian berubah menjadi batu atau dikenal dengan Watu Singa. Kini batu besar yang bentuknya menyerupai singa ini dapat ditemui di sekitar pasir berbisik, atau hanya 1 km dari kaki tangga menuju puncak kawah Bromo. Walau begitu, semburan abu vulkanik secara bertahap mengubur batu ini. Jika cuaca cerah, kita bisa menuju ke batu ini. Kemarin, amat disayangkan tidak sempat menuju ke batu ini karena semburan abu yang cukup tebal.

Menikmati Sunrise di Bukit Cinta

Sekarang kita kembali lagi ke perjalanan menuju ke gardu pandang atau view point. Sebelum kami mulai perjalanan, kami sudah diberitahukan jika ada kemungkinan turun kabut di gardu pandang nanti. Apalagi di musim penghujan ini, kabut lumayan tebal. Jadi jangan terlalu berharap bisa melihat golden sunrise dengan sempurna. Selain itu sebagai tambahan informasi, suhu di kawasan Bromo di saat musim penghujan justru tak sedingin saat musim  kemarau. Tak terbayang deh, bagaimana dinginnya ketika musim kemarau. Kemarin saja rasanya sudah bikin tubuh membeku. Walau begitu, semua ada plus dan minusnya. Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi dengan alam. Mobil jeep kemudian naik ke atas Bukit Wonokitri. Kabut tampak menutupi puncak bukit, ya semoga saja ketika pagi menjelang, kabut ini segera hilang.

Di Bukti Wonokitri ini terdapat beberapa gardu pandang. Paling atas ada Puncak Penanjakan atau Pananjakan merupakan puncak tertinggi untuk melihat matahari terbit ke arah Kaldera Tengger, lokasinya berupa tribun 10 tingkat yang berbentuk setengah lingkaran yang menghadap timur. Lalu di bawahnya ada Bukit Kingkong, atau masyarakat Tengger menyebut bukit ini Kadaluh, dari bahasa Sansakerta yang artinya pengharapan akan kesuburan wilayah Tengger. Lokasinya berbentuk tanah lapang di atas bukit yang dibatasai pagar-pagar beton. Menurut Mas Agus, bukit ini yang paling mudah untuk dilalui karena lebih landai dibandingkan gardu pandang yang lainnya. Kemudian di bawahnya lagi ada Bukit Cinta, dengan ketinggian 2.680 mdpl. Titik ini terkenal dengan tulisan Love Hill Bromo Tengger dan menjadi gardu pandang paling dekat. Pemandangannya pun hampir mirip dengan Bukit Kingkong. Untuk menuju ke gardu pandang, kita harus menaiki anak tangga (jalannya lumayan menanjak). Di atas sudah ada warga yang menawarkan tikar ataupun selimut. Saya sendiri lebih memilih Bukit Cinta karena rekomendasi Mas Agus. Soalnya semakin ke atas, biasanya kabutnya semakin tebal dan saat itu Gunung Bromo sedang erupsi, yang tentunya akan menghalangi sunrise. Di bawah Bukit Cinta, terdapat beberapa warung yang dikelola oleh masyarakat Tengger. Oya, untuk sekali menggunakan toilet kita diharuskan membayar Rp5.000. Di sini mereka menjual syal, kupluk dan sarung tangan, serta menyewakan jaket. Ibu saya membeli kupluk seharga Rp25.000. Sambil menunggu hujan dan pagi tiba, kami beristirahat sambil menikmati wedang jahe dan pisang goreng. Bukit Wonokitri ini sudah masuk ke wilayah Kabupaten Pasuruan.

Sekitar jam 4 pagi, saya naik ke atas bukit. Sedangkan ibu saya menunggu di warung. Mungkin nanti akan menyusul sampai ke anak tangga paling bawah (karena bisa melihat pemandangan yang sama). Saya lalu naik ke atas dan masih cukup sepi. Saya sempat ditawari tikar, namun saya memilih menunggu sambil berdiri. Semakin pagi, semakin banyak orang yang naik ke atas bukit. Seperti yang sudah diperkirakan, kita tidak bisa melihat golden sunrise karena terhalang abu vulkanik. Namun, kita bisa melihat dengan jelas Gunung Batok dan Gunung Semeru (gunung tertinggi di pulau Jawa). Saya cukup beruntung karena Bukit Cinta bebas dari kabut, sedangkan dua gardu pandang di atas masih tertutup kabut. Tak disangka Ibu saya ternyata ikut naik sampai ke puncak. Kami pun menyempatkan berfoto. Momen yang berharga banget, karena ibu saya berhasil naik ke atas puncak. Setelah puas melihat dan menikmati pemandangan dari atas bukit, kami pun bergegas turun dan melanjutkan perjalanan ke lautan pasir dekat Bukit Widodaren.

Selain gardu pandang di Bukit Wonokitri, masih ada satu lagi gardu pandang baru yang terletak di daerah Kabupaten Probolinggo. Gardu pandang yang dikelola oleh pemerintah daerah ini berada di ketinggian 2.500 mdpl. Untuk menuju ke lokasi ini, kita masih diharuskan membayar retribusi sekitar Rp10.000. Berbeda dengan tiga gardu pandang di Bukit Wonokitri yang dikelola oleh taman nasional jadi gratis. Untuk menuju ke puncak Seruni, kita diharuskan menaiki 256 anak tangga. Di puncak Seruni, kita akan disambut 4 pilar Tugu Brawijaya. Tugu untuk mengenang kejayaan Kerajaan Majapahit.

Di lautan pasir, kami langsung menuju ke kawasan dekat Bukit Widodaren. Di sini kami berkesempatan untuk foto-foto dengan menggunakan mobil jeep. Pose yang sepertinya wajib dilakukan saat berwisata ke Bromo. Sekilas tentang Bukit Widodaren atau Gunung Widodaren, bukit ini memiliki ketinggal  2.614 mdpl dan terdapat gua yang disucikan oleh masyarakat Tengger. Di dalam gua ini terdapat sumber mata air yang tidak akan pernah kering sepanjang waktu. Mata air ini dinilai sakral karena sumbernya mengalir langsung dari Bukit Widodaren. Di sini juga terdapat batu besar yang digunakan untuk upacara atau untuk bermeditasi.

Di sebelah kiri bukit ini terdapat Gunung Batok. Gunung ini memiliki ketinggian 2.440 mdpl dan berada di antara empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung ini merupakan salah satu gunung yang tidak aktif. Batok sendiri dalam bahasa Jawa berarti “tempurung kelapa”. Cerita tentang gunung ini juga berasal dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger.

Jika tidak ada larangan untuk naik ke kawah, maka kami seharusnya berhenti di pelataran Gunung Bromo. Di sini kita bisa menyewa kuda untuk menuju ke Pura Luhur Poten dan naik ke Kawah Bromo. Untuk menyewa kuda, harganya sekitar Rp150.000 – Rp200.000 untuk perjalanan menuju ke anak tangga paling bawah dan kembali ke parkiran. Biasanya sebelum kita turun dari mobil, akan ada banyak penyewa kuda yang mendekat. Oya, Pura Luhur Poten menjadi tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu. Pura Luhur Poten berdiri tahun 2000. Pura ini menjadi tempat pemujaan Dewa Brohmo (Dewa Brahma), yang menjadi manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Pencipta. Nama Bromo sendiri diambil dari nama Dewa Brohmo.

Nah untuk naik ke kawah Bromo, kita harus menaiki anak tangga sebanyak 250 anak tangga. Konon katanya jika kita mencoba menghitungnya, jumlah ketika kita naik dan turun akan berbeda. Mungkin karena kita sudah terlalu capek dan menghitungnya mulai ngawur. Untuk menuju ke anak tangga dari parkiran, kurang lebih jaraknya 1 km. Kita bisa berjalan kaki atau naik kuda. Bromo sendiri tingginya mencapai 2.329 mdpl dan merupakan salah satu gunung yang masih aktif. Kawah Bromo memiliki garis tengah kurang lebih 800 m (utara-selatan) dan kurang lebih 600 m (timur-barat). Kedalaman kawah Bromo diprediksi mencapai 200-600 m, dan terdapat daerah berbahaya berupa sebuah lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah.

Ketika kami ke sana, Bromo memang sedang erupsi. Menurut mitos masyarakat Tengger, di sekitar Gunung Bromo terdapat istana yang tingginya 18 tingkat yang dibangun oleh Ki Bromo. Masyarakat Tengger mempercayai, ketika Gunung Bromo sedang erupsi, itu berarti Ki Bromo sedang melanjutkan pembangunan dari istana tersebut. Biasanya Ki Bromo meminta sesajen yang berupa palawija. Walau begitu, masyarakat Tengger mempercayai erupsi dari kawah Bromo memiliki makna yang positif, menurut mereka erupsi kawah Bromo dapat membawa berkah karena, dengan adanya erupsi pada kawah Gunung Bromo, tanah pertanian mereka akan lebih subur.

Menuju ke Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies

Lanjut menuju ke Pasir Berbisik. Sebelum terkenal dengan nama ini, kawasan ini lebih sering disebut dengan Segara Wedi. Lautan pasir yang berada di ketinggian lebih dari 2000 mdpl ini mendapat julukan baru setelah hadirnya film berjudul “Pasir Berbisik” karya Nan T. Achnas pada tahun 2001 silam. Film ini berlatar kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Bromo dan dibintangi oleh Christine Hakim dan Dian Sastrowardoyo. Kenapa dinamakan pasir berbisik, karena ketika mendekatkan telinga ke tanah pasir, akan seperti yang sedang berbisik. Sebenarnya fenomena pasir berbisik ini terjadi karena ketika angin bertiup, butiran-butiran pasir bertebangan dan terdengar seperti bisikan yang sampai ke telinga setiap orang yang melewatinya.

Sebenarnya ada yang unik di sekitar pasir berbisik. Terdapat satu pohon akasia yang hanya satu-satunya tumbuh di sini. Mengapa pohon ini unik, karena di sekelilingnya tidak ada pohon yang tumbuh. Tak banyak orang yang tahu dengan keberadaan pohon ini, bahkan saat itu hanya rombongan kami saja yang berhenti di dekat pohon ini dan berfoto di lokasi ini.

Beralih ke kawasan lainnya, kita menuju ke Padang Savana dan Bukit Teletubbies. Dua lokasi ini memang berdekatan, jadi kadang susah membedakannya. Aslinya kedua lokasi ini bernama Pusung Suket dan Pusung Kursi. Kata ‘pusung’ dalam Bahasa Tengger berarti Bukit. Kalau Bukit Teletubbies sendiri mendapatkan julukan karena mirip dengan lokasi bukit teletubbies dalam serial anak-anak di televisi. Lokasi ini memang menjadi salah tujuan utama wisatawan untuk berfoto. Jadi jangan heran jika sangat ramai. Bukit ini juga pernah terbakar karena ulah manusia (membuang puntung rokok sembarangan), namun kata Mas Agus sebenarnya kebakaran ini terjadi secara alami. Semacam rumput yang terbakar kemudian menjadi kompos untuk tumbuhan berikutnya. Walau begitu, ada baiknya untuk tidak membuang puntung rokok secara sembarangan. Apalagi saat musim kemarau.

Kami sendiri tidak berhenti di Bukit Teletubbies, Mas Agus justru menyarankan menuju ke kawasan Watu Gede. Di sini kita bisa melihat pemandangan bukit yang lebih luas dan tentunya lebih sepi. Di sini terdapat sebuah batu raksasa yang konon merupakan bekas petilasan Ki Panca. Ki Panca sendiri adalah cucu dari Mbah Kinting, yang merupakan pengikut dari Joko Seger dan Rara Anteng. Setelah puas berfoto, kami pun kembali menuju ke meeting point di Tumpang. Perjalanan kami ke Bromo termasuk singkat, karena tidak naik ke kawah Bromo. Jika naik ke atas, maka dibutuhkan waktu sekitar 2 jam. Setelah sampai di meeting point, kami istirahat sejenak sambil menyeduh teh hangat. Tak lama kemudian sang agen tur mengantar kami kembali ke hotel di Kota Malang.

Perjalanan ke Bromo memang penuh dengan kejutan. Walau begitu, paling tidak saya pernah ke Bromo dan bisa menceritakan pengalaman saya kepada orang lain. Semoga kelak masih bisa ke Bromo dan menikmati keindahan matahari terbit dari balik Gunung Bromo.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s