JAKARTA: Ereveld Menteng Pulo

Kali ini, saya ingin menuliskan pengalaman saya berkunjung ke makam kehormatan Belanda atau Netherlands Field Of Honour yang berada di daerah Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Saya sudah dua kali berkunjung ke makam ini, pertama saat saya mengikuti rute Kuningan bersama Jakarta Good Guide dan dipandu oleh Mas Chanda, sedangkan yang kedua adalah rute khusus Evereld Menteng Pulo. Nah, gak perlu berlama-lama lagi. Kita mulai menjelajahi ke dalam kawasan pemakaman ini ya.

Makam Kehormatan Belanda

Pada kesempatan kedua kalinya ini saya akan kembali masuk ke dalam kawasan pemakaman bersama pemandu dari JGG, Carles. Sebelum masuk, kami diberitahu tentang beberapa hal, salah satunya tentang aturan mengambil foto. Meski ini pemakaman yang bisa dimasuki secara umum, tapi kita diminta untuk tidak mengambil gambar nisan secara dekat. Karena hal ini cukup sensitif, sebab pernah ada yang mengunggah foto dan menunjukkan nama dengan begitu jelas dari nisan di makam ini. Lalu ada pihak keluarga yang berkeberatan. Jadi kami diminta untuk mengambil gambar nisan yang tanpa nama atau bisa mengambil gambar secara luas.

Kami kemudian berhenti sejenak di depan pendopo untuk mengisi buku tamu, sambil diceritakan tentang sejarah ereveld ini. Jadi dulu ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda, ada sekitar 300 ribu orang Belanda yang menetap di sini. Hingga kemudian pada Januari 1942 datanglah Jepang dan menjajah Indonesia pada masa Perang Dunia II. Selama penjajahan Jepang ini, banyak warga sipil Belanda yang ditawan dalam kamp konsentrasi Jepang dan para tawanan perang banyak yang dijadikan pekerja paksa, salah satunya untuk membangun rel kereta Birma-Siam. Diperkirakan ada sekitar 34 ribu orang Belanda yang gugur selama Perang Dunia II di Asia Tenggara dan juga selama masa agresi militer Belanda.

Dari sekian banyak orang Belanda yang gugur di Indonesia, ada sekitar 25 ribu korban perang yang dimakamkan di 7 makam kehormatan Belanda di Pulau Jawa. Nah, sebelumnya ada 22 makam yang tersebar di seluruh Indonesia, seperti di Manado, Palembang, dan Makassar. Antara tahun 1960 dan 1970, atas permohonan Pemerintah Indonesia, 22 makam ini dijadikan 7 ereveld dan semuanya berada di Pulau Jawa. Korban perang yang dimakamkan di luar 7 ereveld tadi kemudian dipindahkan dan dimakamkan kembali. Hal ini dimaksudkan agar makam kehormatan ini mudah diawasi dan dikelola. Pengelolanya sendiri adalah Oorlogsgravenstichting (OGS) atau Yayasan Makam Kehormatan Belanda yang juga seluruh makam kehormatan Belanda yang ada di seluruh dunia. Oya, pemakaman ini dikelola secara mandiri oleh Pemerintah Belanda ya, jadi tidak menggunakan dana dari Pemerintah Indonesia.

Lalu, di mana saja makam kehormatan Belanda yang masih tersisa di Indonesia? Ada di Jakarta (Ereveld Menteng Pulo dan Ereverld Andol), Bandung (Ereveld Pandu), Cimahi (Ereveld Leuwigajah), Semarang (Ereveld Kalibanteng dan Ereveld Candi), dan Surabaya (Ereveld Kembang Kuning). Setiap ereveld memiliki keunikan masing-masing, misalnya di Ancol terdapat hemelboom atau pohon surga yang menjadi saksi bisu kekejian Perang Dunia II dan tempat sebagian besar eksekusi dilakukan, lalu di Menteng Pulo terdapat gereja untuk upacara peringatan.

Kembali ke Ereveld Menteng Pulo. Jadi makam ini dikhususkan untuk korban perang dari Perang Dunia II yang gugur selama pertempuran melawan Jepang pada 1941-1945, dan masa masa revolusi setelah Perang Dunia II pada 1945-1949. Ada lebih dari 4.000 korban perang, baik orang Belanda, Indo Belanda, dan Indonesia yang dimakamkan di sini. Dari ribuang korban perang, hanya seperempatnya adalah berdinas militer. Sebagian besar korban adalah warga sipil, kebanyakan adalah laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang meninggal di kamp konsentrasi Jepang. Oya, kenapa ada orang pribumi juga yang dimakamkan di sini? Karena mereka adalah anggota tentara Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), sehingga berhak untuk dikebumikan di ereveld. Rata-rata mereka adalah pribumi Muslim yang direkrut pada masa Gubernur Jenderal Daendels. Bisa dibilang tak ada perbedaan strata atau status sosial pada pemakaman ini. Semuanya sama. Baik orang kulit putih, kulit berwarna, pejabat militer dengan pangkat tinggi, ataupun berpangkat rendah, semua dimakamkan berdampingan.

Makam di sini tak hanya menjadi pemakaman bagi orang Belanda dari kawasan sekitar, tapi juga dari beberapa evereld lainnya. Secara bertahap, makam dari ereveld lainnya dipindahkan di sini, mulai dari Banjarmasin (1961), Tarakan (1964), Manado (1965), Palembang (1967), Balikpapan (1967), Makassar (1968) dan terakhir adalah Cililitan (1968). 

Tempat Peristirahatan Para Korban Perang

Ereveld Menteng Pulo menempati lahan seluas 29.000 m2 dan berbentuk L. Pemakaman ini dirancang oleh perwira cadangan Letkol Ir. Hugo Anthonius van Oerle, komandan Divisi C 7 December. Tanahnya merupakan sumbangan dari Pemerintah Jakarta. Sebelumnya di atas lahan ini ada bangunan beton peninggalan Jepang yang kemudian dibongkar untuk dibangun makam kehormatan. Peletakan batu pertama makam ini dilakukan pada 8 Desember 1947 oleh Letjen. Simon Hendrik Spoor yang saat itu menjabat sebagai komandan tentara di Hindia Belanda. Namun makam prajurit W. van Kammen sudah ada sana sejak 11 Februari 1947 dan sepasang orang sipil juga sudah dimakamkan di sana pada 14 Desember 1946.

Oya, dua tahun setelahnya Jenderal Spoor meninggal dan dimakamkan di ereveld ini pada 29 Mei 1949. Dia merupakan salah satu tokoh penting KNIL, karena berperan dalam merebut kembali Indonesia dalam Agresi Militer Belanda I dan II. Jenderal Spoor diduga mati diracun saat merayakan pesta promosinya menjadi jenderal bintang empat di restoran tepi laut dekat Tanjung Priok pada 20 Mei 1949 dan meninggal pada 25 Mei 1949.

Saat memasuki ke kawasan makam yang penuh dengan papan nisan yang dibangun secara rapi dan simetris, kita akan melihat ada beberapa jenis papan nisan yang berbeda. Nah, kata Carles ini menandai identitas agama orang yang dimakamkan di sini. Salah satunya yang berada di sisi kiri saat kita masuk, di sini ada papan nisan dengan tiga tonjolan di atasnya. Nisan ini diperuntukan untuk bagi umat Muslim dan posisinya menghadap ke kiblat. Kemudian nisan berbentuk salib Latin atau salib biasa yang melambangkan kematian dan kebangkitan Yesus untuk menandai makam laki-laki Kristen/Katolik, dan nisan berbentuk Budded Cross atau Salib Rasul/Salib Katedral dengan tiga cakram di setiap ujung mewakili Trinitas (yang melambangkan kekuasaan bumi, langit dan laut) menandani makam perempuan Kristen/Katolik. Kemudian ada juga nisan dengan ujung membulat, ini menandai makam Budha atau keturunan Tionghoa, dan nisan dengan Bintang Daud atau bintang segi enam yang menandai makam Yahudi. Lalu ada juga yang bentuk seperti tameng persegi lima bertuliskan verzamelgraf, ini merupakan nisan yang menandai makam massal yang diisi beberapa jenazah. Selain itu ada ada nisan yang ukurannya lebih kecil, ini menandai bahwa yang dimakamkan adalah anak-anak.

Dari sekian banyak nisan di sini, kita juga bisa menemukan beberapa nisan yang tidak ada namanya atau tertulis Onbekend atau tidak diketahui. Biasanya mereka yang dimakamkan dengan nisan ini adalah mereka yang tidak bisa diidentifikasi, bisa karena tubuhnya rusak atau tidak ada yang mengenalinya.

Di sebuah lereng rendah berumput terdapat tulisan yang diukir di atas permukaan batu keramik berbunyi “Ter nagedachtenis aan hen Wier moed en standvastigheid Zegevierden over de dood” yang berarti “Mengenang mereka yang keberanian dan ketabahannya menang atas kematian.”

Lalu di perbatasan Ereveld Menteng Pulo dengan Makam Perang Jakarta terdapat sebuah tembok dengan tulisan “Opdat zij met eere moge rusten” atau “mereka dapat beristirahat dengan kehormatan” di bagian tengah. Lalu di sebelah kirinya tertulis “Tanda peringatan bagi korban peperangan yang meninggal di kawasan Asia Tenggara”, dan di sebelah kanan tertulis “Ter nagedachtenis aan de oorlogsslachtoffers omgekomen in zui oost-azie” atau “Untuk mengenang para korban perang tewas di Asia Timur”.

Lalu tak jauh dari tembok tadi, terdapat sebuah patung yang menggambarkan kondisi anak-anak pada masa itu. Patung anak-anak ini tampak bertulang rusuk menonjol dan perut buncit busung lapar, dengan tulisan “Een Kind van de oorlog” atau “A child of the war“, anak korban perang. Patung ini juga menjadi memorial bagi anak-anak yang mati kelaparan di dalam kamp-kamp tentara Jepang. Bahkan ada banyak nisan kecil yang tanpa nama di sini.

Di sisi sebelah kiri, atau dekat dengan blok nisan Muslim terdapat sebuah blok yang dikhususkan untuk korban perang dari prajurit penerbangan KNIL, Militaire Luchvart, pindahan dari Ereveld Cililitan. Dulunya berada di dalam kawasan Pangkalan Udara Militer Halim Perdanakusuma. Kebanyakan yang dimakamkan di sini adalah korban perang dari angkatan udara maupun yang menjadi korban jatuhnya pesawat militer. Salah satu yang menandai blok ini adalah tugu Royal Air Force, dengan relief pedang dan empat bilah baling-baling, yang salah satunya patah. Di sini tertulis “Ter nagedachtenis aan onze gevallen kameraden” yang artinya “Untuk rekan-rekan kami yang telah jatuh”. Lalu di sisi timurnya terdapat makam-makam dari prajurit Angkatan Laut Belanda, Koninklijk Marine.

Oya, setiap tahunnya ada dua kali upacara yang dilakukan di sini. Pertama setiap 4 Mei dan 15 Agustus. Untuk 4 Mei diperingati bagi mereka yang gugur dalam Perang Dunia II dan masa-masa setelahnya, kemudian 15 Agustus diperingati sebagai berakhirnya Perang Dunia II di Asia Tenggara. Biasanya ada upacara yang dihadiri orang-orang Belanda di Indonesia atau perwakilan dari Pemerintah Belanda. Terakhir ereveld ini mendapat kunjungan Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima pada 2020 saat mereka melawat ke Indonesia. Saat kami di sana ada beberapa karangan bunga yang diletakan di beberapa tugu dan nisan. Ternyata karangan bunga ini langsung dipesan oleh keluarga di Belanda untuk diletakan di makam keluarga mereka. OGS sendiri memang melayani keluarga-keluarga yang ingin memberikan karangan bunga, meski mereka tak bisa datang ke makam.

Tapi yang menurut saya paling menarik adalah kenapa nisan-nisan di sini begitu rapi dan bersih? Usut punya usut, ternyata staf OGS yang memastikan agar semua terawat dengan baik. Termasuk mengecat ulang jika ada nisan yang sudah mulai pudar. Mereka memiliki bengkel untuk memperbaiki nisan yang rusak atau pudar. Bahkan mereka juga punya persediaan nisan untuk mengganti nisan yang sedang diperbaiki dan petugas khusus yang bertugas untuk menulis nama di nisan. Biasanya proses perbaikan memakan waktu hingga 7 hari. Selain perbaikan nisan, staf OGS juga menjaga kebersihan dan perawatan rumput dan taman. Jadi pantas saja jika pemakaman ini begitu rapi dan cantik.

Tempat Ibadah Untuk Semua Agama

Nah, yang menjadi ciri khas Ereveld Menteng Pulo adalah dua bangunan di tengah pemakaman. Pertama adalah Gereja Simultan atau Simultaankerk. Kenapa dinamakan simultan? Karena bangunan ini tak hanya digunakan sebagai gereja namun juga tempat acara peringatan dan upacara untuk semua agama. Bangunan ini juga dihiasi dengan simbol agama Kristen, Islam, Budha, dan Yahudi di atas menara gereja. Kalau tidak takut ketinggian, kita bisa naik ke atas menara untuk melihat pemakaman dari atas.

Di bagian depan Gereja Simultan, terdapat lonceng yang dibunyikan saat ada upacara atau peringatan tertentu. Kata Carles, lonceng ini dulunya ada di atas gereja. Di dalamnya terdapat altar dan sebuah salib besar berwarna coklat. Salib Birma-Siam Spoorweg ini terbuat dari bantalan rel kereta Burma-Siam dan merupakan salib penghormatan bagi para tawanan perang asal Amerika, Inggris, Australia, dan Belanda, yang wafat pada saat pembangunan rel kereta tersebut.

Selain itu juga terdapat Columbarium di sisi gereja, yang menyimpan 754 guci abu orang Belanda yang gugur sebagai tawanan perang di kamp kerja paksa Jepang. Di sini setiap guci abu yang terbuat dari logam, ditata sedemikian rupa sesuai dengan abjad. Sama seperti dengan nisan, pada guci-guci ini juga ada yang tertulis dengan Onbekend yang artinya tidak diketahui namanya. Kata Columbarium ini berasal dari bahasa latin “columba” yang artinya burung merpati. Sejarah pemakaman columbarium merujuk pada tempat tinggal yang diperuntukkan bagi burung merpati yang disebut ”dovecote”. Mungkin secara harfiah bisa diartikan sebagai tempat peristirahatan. Di salah satu sudut, terdapat sebuah kaca patri yang menggambarkan orang Belanda dan orang pribumi. Lalu di sisi luar columbarium, ada sebuah plakat yang tertulis 94 nama prajurit angkatan darat Kerajaan Belanda yang gugur dalam kurun waktu 1946-1962 di kawasan Hindia Belanda dan Irian Barat.

Masuk Ke Makam Perang Jakarta

Jika pada rute kali ini kami hanya berhenti sampai di area ereveld, tapi di rute sebelumnya kami sempat masuk ke dalam Makam Perang Jakarta atau Jakarta War Cemetery yang berisikan makam-makam prajurit Inggris yang jadi korban perang. Hampir semua yang dimakamkan di sini merupakan korban dari pihak militer. Lokasinya berada di sisi timur laut ereveld dan dibatasi dengan pagar. Jadi berbeda pengelolaannya dengan Ereveld Menteng Pulo, karena pemakaman ini dikelola oleh Komisi Pemakaman Korban Perang Persemakmuran Inggris atau Commonwealth War Graves Cemetery (CWGC). Kala itu kami masuk melalui pintu yang menghubungkan kuburan Belanda dan Inggris.

Meski tak banyak seperti ereveld, makam yang ada di sini juga sangat terawat. Nisannya pun berbeda, di sini bentuknya marmer prasasti dengan posisi horizontal. Hampir sama dengan yang ada di ereveld, nisannya tertulis nama, pangkat, dan tanggal kematian. Untuk melihat identitas agamanya bisa dilihat dari tanda salib, bintang Daud atau huruf Arab di nisannya. Kebanyakan yang dimakamkan di sini adalah tentara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Inggris. Mereka gugur saat mempertahankan Jawa dan Sumatra dari tangan Jepang, dan peristiwa Pertempuran Surabaya, 10 November 1945.

Diperkirakan ada 1.811 korban perang yang dimakamkan di sini. Sebanyak 236 makam merupakan korban tewas tak dikenal. Dari sekian banyak tentara yang dimakamkan di sini, paling banyak berasal dari Inggris dan India, yaitu 715 makam tentara Inggris dan 304 pasukan brigade India, sisanya adalah 96 Australia, 4 Kanada, 2 Selandia Baru, 1 Afrika, 1 Burma, 22 Melayu, dan 36 lainnya.

Salah satu yang menarik adalah makam yang berada di sebelah pintu penghubung, di sini disemayamkan tentara dari Indian Army Medical Corps, Indian Pioneer Corps, Royal Indian Army Service Corps, dan 8th Punjab Regiment. Mereka ini berasal dari India dan Pakistan, serta beragama Islam. Di area ini juga terdapat tugu yang tertulis “Pakistan” dan “Indian Forces‘ serta “1939 – 1945” yang dipersembahkan bagi tentara Sekutu yang berasal dari resimen India dan Pakistan. Tahun “1939 – 1945” menandai periode gugurnya para tentara ini sejak Jepang menginvasi Hindia Belanda sampai tentara sekutu masuk setelah Jepang menyerah.

Pada nisan yang berada di area ini rata-rata tertulis tulisan Arab yang berbunyi Huwal Ghafur (Engkaulah yang Maha Pengampun), dan Innalillahi wainailaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali). Oya, di sini juga menjadi tempat peristirahatan bagi tentara Gurkha, pasukan berani mati yang berasal dari Nepal. Di nisannya ada lambang Kukri, yaitu pisau legendaris tentara Gurkha.

Di sebelah area ini, agak menurun kita akan menjumpai tugu peringatan yang berbentuk salib. Nah, agak maju sedikit berdiri bangunan kecil yang menjadi gerbang masuk. Di sini terdapat prasasti dan plakat yang berisikan informasi tentang sejarah Perang Pasifik di Hindia Belanda.

Dari beberapa nisan yang ada di Makam Perang Jakarta, ada satu makam milik Brigadier Aubertin Walter Sothern Mallaby., CIE., OBE., Komandan Pasukan Birgade 49 Infantri India, yang tewas di dalam peristiwa baku tembak di depan gedung International dan Jembatan Merah, Surabaya pada 30 Oktober 1945. Penyebab kematiannya terbilang masih misterius, namun ada yang menceritakan jika Mallaby ditembak oleh pasukan Indonesia dan mobilnya diledakan dengan granat hingga jenazahnya sulit dikenali. Kematiannya ini kemudian memicu serangan besar-besaran tentara Sekutu ke Surabaya pada 10 November 1945. Sebelum dipindahkan ke sini, jenazahnya dimakamkan di pemakaman Kembang Kuning, Surabaya, dan dipindah ke sini pada 1960-an bersamaan dengan serdadu lainnya dari Palembang, Medan, dan Muntok. Awalnya, hanya JWC terdiri dari 474 makam. Kemudian tanah diperluas dan total menjadi 1.811 makam hingga kini.

Selain itu juga ada sejumlah nisan yang tidak mencantumkan nama. Salah satunya adalah nisan yang tertuliskan “An Allied Soldier of the 1939-1945 War“, yang menandakan tentara Sekutu yang identitasnya tidak dikenali. Oya, sama seperti di makan Belanda, setiap tahunnya diadakan acara peringatan di JWC, yaitu Remeberance Day atau Poppy Day. Perayaan ini merupakan peringatan tewasnya para tentara Persemakmuran atau Commonwealth of Nations pada Perang Dunia I dan diadakan setiap 11 November. Biasanya akan dihadiri oleh para duta besar negara Persemakmuran, beberapa veteran perang, dan keluarga.

Ereveld Menteng Pulo, buka setiap hari jam 7.00 pagi – 5.00 sore untuk umum. Sedangkan Makan Perang Jakarta juga dibuka untuk umum, setiap hari Senin hingga Jumat jam 8.00 pagi – 5.00 sore. Untuk masuk, kita bisa meminta izin kepada pengurus makam. Akan lebih mudah jika kita mengikuti tur, tapi kita bisa masuk secara pribadi. Kalian menghubungi staf OGS untuk membuat perjanjian kunjungan ke ereveld, atau staf CWGC untuk masuk ke JWC. Oya, karena ini pemakaman, jadi juga harus menjaga kesopanan ya. Supaya siapa saja bisa berkunjung dan belajar tentang sejarah masa lalu di sini. Sampai bertemu di perjalanan berikutnya ya!

2 thoughts

  1. Selamat siang mas Arya, salam kenal, saya Rama. Ternyata kita pernah satu rombongan di JGG utk tur Ereveld ini. Saya yang pakai topi Oren tulisan Holland. Saya suka membaca tulisan mas Arya, sangat lengkap sekali ulasannya. Saya berharap bisa bertemu lagi dengan mas Arya dalam satu rombongan di tur JGG, untuk saling berbagi pengalaman dengan mas Arya.

    Sekali lagi salam kenal ya mas

    Have a good day!

    Like

    1. Halo mas Rama. Salam kenal juga mas. Wah, saya malah baru ngeh kalo kita pernah satu rombongan di JGG. Semoga lain kali bisa bertemu lagi di tur berikutnya ya. Terima kasih juga sudah mampir membaca blog saya. 🙂

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s