JAKARTA: Riwayat Pecinan Glodok, Part 1

Beberapa hari yang lalu, saya kembali mengikuti walking tour bersama Jakarta Good Guide. Untuk rute kali ini saya kembali mengambil rute Chinatown atau Pecinan Jakarta. Setelah saya coba ingat-ingat, saya sudah sangat sering ke Glodok dan sekitarnya. Bahkan saya mencoba membuka folder foto di laptop saya, kira-kira ada lima folder yang berisikan foto-foto saat berkunjung ke Pecinan. Bahkan saya sudah menyiapkan satu draft di blog ini untuk saya tulis tentang pengalaman saya ke Pecinan. Namun sepertinya saya terlalu sibuk untuk menulisnya. Baru sekarang ini saya punya waktu untuk kembali menceritakan perjalanan saya ke Pecinan Glodok.

Kalau diingat-ingat, pengalaman pertama saya ke Pecinan itu saat saya diajak teman saya, Nathan. Tapi saya lupa sekitar tahun berapa. Cuma yang teringat adalah kami makan bakmi di Gang Gloria. Sejak itu, saya beberapa kali ke Pecinan. Baik sendiri (karena hendak ke Pasar Asemka) maupun bersama teman atau ayah dan ibu saya. Sedangkan untuk walking tour, ini adalah ketiga kalinya saya ikut. Pertama dengan Cultural Trip Indonesia, kemudian Jakarta Good Guide (edisi Kuliner), dan kembali lagi dengan Jakarta Good Guide. Karena ada banyak tempat, saya akan membagi perjalanan saya menjadi empat tulisan, plus satu tulisan khusus tentang kuliner di Pecinan. Saya akan update, jika saya kembali mengunjungi Pecinan dan mendapatkan informasi terbaru tentang tempat yang saya kunjungi. Baik, tak perlu berlama-lama lagi. Mari kita singgah ke Pecinan Glodok!

Sejarah Pecinan Jakarta

Pagi ini kami berkumpul di depan Citywalk Gajah Mada. Berhubung ada banyak peserta, kami kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok. Pemandu yang menjadi tour guide kami hari ini adalah Ibek. Setelah memperkenalkan diri masing-masing, Ibek menceritakan tentang sejarah Pecinan dan juga Glodok. Nah, jika bicara tentang Pecinan, kita akan selalu mengasosiasikannya dengan suatu tempat yang mayoritas dihuni oleh orang Tionghoa. Di Jakarta, sejarah masuknya orang Tionghoa justru lebih lama sebelum datangnya Belanda ke Indonesia. Bahkan leluhur orang Tionghoa dari Tiongkok sudah melakukan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan Nusantara sejak abad ke-4 hingga abad-7. Nusantara sendiri merupakan jalur utama yang selalu disinggahi pedagang maupun pelaut dari Tiongkok yang hendak menuju ke Samudra Hindia. Salah satu yang cukup terkenal adalah Laksamana Cheng Ho pada abad ke-5. Penjelajah Tiongkok ini tercatat sudah tujuh kali mengunjungi Nusantara. Kembali ke jalur utama perdagangan, banyak pedagang dan penjelajah asal Tiongkok yang kemudian menetap beberapa wilayah pesisir. Ada yang kemudian menikahi orang lokal, ada juga yang tidak bisa kembali ke negaranya karena kapalnya rusak dan sebagainya. Mereka kemudian memilih tinggal dan menetap. Di Sunda Kelapa, orang Tionghoa mendiami sebelah timur muara Ciliwung. Mata pencaharian mereka antara lain menjual arak, beras, air minum untuk pendatang yang singgah di pelabuhan.

Pada tahun 1619, ketika VOC atau Vereenigde Oostindische Compagnie menguasai Sunda Kelapa mereka terusir karena hendak dibangun tembok besar yang mengelilingi Kota Batavia. Meski diusir, mereka masih bisa keluar masuk dan tinggal di dalam kota. Bahkan sang Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen mengajak orang-orang Tionghoa yang tinggal di Pelabuhan Banten untuk pindah dan berdagang di Batavia. Dia bahkan meminta seorang jagoan Tionghoa bernama Souw Beng Kong, yang juga orang terdekat Sultan Banten, untuk mengajak orang Tionghoa di Banten untuk pindah ke Batavia. Kota Batavia kemudian menjadi kota pelabuhan yang ramai, termasuk perdagangan rempah-rempah. Souw Beng Kong lalu diangkat menjadi Kapitan Cina pertama, yang mengepalai orang-orang Tionghoa di Batavia. Jumlah orang Tionghoa pun makin lama makin bertambah. Awalnya ada sekitar 400 orang Tionghoa di dalam kota Batavia, namun jumlahnya menjadi seribuan pada tahun 1622. Hingga pada tahun 1740 jumlahnya menjadi lebih dari 10.000 orang di dalam kota, dan ribuan lainnya tinggal di luar batas kota.

Jumlah yang semakin banyak, menyebabkan pemerintah kolonial Belanda mewajibkan setiap orang Tionghoa memiliki surat pengenal. Jika tidak punya, maka akan dideportasi ke Tiongkok. Bahkan ada pula yang dideportasi ke Zeylan atau kini Sri Lanka untuk menjadi petani kayu manis. Namun desas-desusnya, mereka justru dibunuh dan dibuang ke laut. Hal ini menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat Tionghoa, ditambah lagi dengan represi pemerintah kolonial tentang harga gula. Sebab banyak orang Tionghoa yang bekerja sebagai buruh pabrik gula di Batavia. Mereka juga dianggap sebagai sumber masalah sosial di Batavia. Hingga kemudian Gubernur Jenderal Valckenier memerintahkan agar orang Tionghoa dibunuh. Peristiwa yang terjadi pada 9-22 Oktober 1740 ini kemudian dikenal sebagai “Geger Pacinan”. Ada sekitar 10.000 orang keturunan Tionghoa dibantai. Bahkan ada cerita mengatakan banyak mayat yang orang Tionghoa yang bertebaran di Kali Besar, sehingga menyebabkan permukaan airnya menjadi merah, yang kemudian mempengaruhi nama “Toko Merah” yang ada di pinggir Kali Besar. Selain itu kejadian ini memunculkan nama daerah Rawa Bangke atau Angke, yang berasal dari kata bangkai.

Asal-mula Glodok

Baru pada saat Gustaaf Willem van Imhoff menjadi gubernur jenderal, orang-orang Tionghoa dipusatkan di satu tempat di luar benteng kota yang sekarang kita kenal dengan sebutan Glodok. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pemerintah kolonial Belanda mengawasi aktivitas warga Tionghoa. Nah, kenapa namanya Glodok? Kalau kata Ibek, ada banyak versinya. Ada versi yang mengatakan bahwa kata Glodok berasal dari kata “grojok“, karena dulu ada penampungan air dari Kali Ciliwung yang berada di depan gedung Balai Kota (Stadhuis). Air disalurkan melalui pancuran kayu dan ketika airnya keluar berbunyi grojok, grojok. Karena tidak bisa mengucapkan huruf “R”, banyak orang Tionghoa yang menyebutnya dengan glodok.

Versi lainnya, dulu ada jembatan kayu yang membentang di atas Kali Besar atau Kali Ciliwung (posisinya tepat di antara Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajah Mada). Di ujung jembatan dibangun tangga-tangga yang menempel di tepi kali. Fungsinya untuk mandi dan mencuci pakaian. Dalam bahasa Sunda, namanya disebut golodok. Karena cukup populer sebagai tempat mandi dan cuci, tempat itu kemudian disebut dengan glodok. Selain dua versi ini, juga ada versi ketika. Menurut Ibek, dulu Kali Ciliwung digunakan untuk saluran pengangkutan kayu dari luar kota Batavia. Nah, karena sering berbenturan dan menimbulkan bebunyian seperti geruduk, orang Tionghoa menyebutnya dengan glodok. Well, apapun itu versinya. Kita kemudian mengenalnya sebagai daerah Glodok, yang dikenal dengan pusat perdagangan elektronik terbesar di Jakarta.

Pasar Glodok memang dikenal sebagai pusatnya barang-barang elektronik hingga lapak-lapak VCD dan DVD. Salah satu yang cukup terkenal adalah jembatan penghubung Pasar Glodok yang tepat di atas Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk. Pasar ini juga dikenal sebagai satu-satunya Pasar Jaya yang menjual daging babi di Jakarta.

Di sudut Jalan Pancoran, berdiri sebuah bangunan yang kini kita dengan Pantjoran Tea House. Bicara tentang sejarah Kota Tua, ternyata tak terlepas dari teh. Di Batavia, teh pertama kali diperkenalkan oleh Andreas Cleyer, seorang ahli botani yang bekerja untuk VOC. Ia memperkenalkan bibit teh dari Jepang pada tahun 1684. Selain sebagai komoditi perdagangan, teh juga turut menyelamatkan warga Kota Batavia. Dulu ketika Batavia diserang oleh pasukan Mataram, Kali Ciliwung menjadi tercemar dan menyebabkan wabah kolera dan disentri. Banyak warga yang meninggal, namun orang-orang Tionghoa justru sedikit yang meninggal. Setelah diusut, ternyata mereka memiliki tradisi menyeduh teh dengan air panas yang membuat nyawa mereka selamat. Gedung Pantjoran Tea House sendiri dibangun pada 1635. Dulu gedung ini merupakan perkantoran milik Kapitan Cina bernama Gan Djie. Wilayah Glodok merupakan pusat niaga yang strategis kala itu, sehingga banyak orang yang berlalu-lalang. Kapitan Gan Djie dan istrinya kemudian menyediakan delapan teko teh secara gratis di depan kantor Kapitan yang kerap menjadi tempat singgah para pedagang keliling yang kelelahan. Tradisi ini kemudian memunculkan kawasan Patekoan, yang diambil dari kata “Pa” yang dalam bahasa Tionghoa berarti delapan dan “Tek-wan” yang artinya teko teh. Teko-teko teh ini juga menjadi petunjuk untuk menuju kantor Kapitan.

Pada tahun 1928, gedung ini kemudian dijadikan apotik oleh Lin Chei Wei. Apotik ini dikenal sebagai Apotheek Chung Hwa dan merupakan toko obat tertua kedua di Jakarta. Meski Kapitan Gan Djie sudah tidak menempati bangunan itu lagi, tapi Lin Chei Wei selaku pemilik apotik tetap melanjutkan tradisi Gan Djie dengan menyediakan teh gratis, di depan apotiknya. Gedung ini sempat tak berpenghuni, namun pada tahun 2015, bangunan ini akhirnya dipugar dan direvitalisasi untuk mendukung Kota Tua sebagai situs warisan budaya dunia oleh UNESCO. Bangunan ini direvitalisasi oleh arsitek Ahmad Djuhara, dan beralih fungsi menjadi kedai teh dengan nama Pantjoran Tea House. Namun tradisi Patekoan masih tetap ada hingga sekarang. Saya sendiri pernah mencicipi teh dari teko-teko yang ditaruh di depan gedung ini (jauh sebelum adanya pandemi). Namun saya malah belum pernah masuk ke dalam dan mencicipi makanannya.

Lorong Obat

Oya, di depan gedung ada jalan yang namanya hampir sama dengan yang ada di Jakarta Selatan. Namanya adalah Jalan Pancoran, atau bisa disebut dengan Pancoran – Glodok. Nama Pancoran sendiri berasal dari kata pancuran yang dulunya terletak di ujung jalan. Namun kini pancuran itu sudah tidak ada. Selain itu, dulu di ujung jalan masuk terdapat gapura yang menandai kawasan Pecinan.

Baiklah kita lanjut ke Jalan Pancoran – Glodok. Di sini merupakan salah satu lorong yang banyak terdapat toko-toko obat tradisional Cina. Dari luarnya saja kita sudah bisa mencium bau obat-obatan herbal yang khas. Ciri khas pengobatan di sini adalah memeriksa penyakit kepada sinshe atau tabib. Biasanya kita akan diperiksa melalui denyut nadi yang ada di pergelangan tangan kita. Percaya tidak percaya, biasanya sang sinshe langsung mengetahui penyakit yang kita derita hanya dari memegang pergelangan tangan kita. Nanti jika sudah ketahuan penyakitnya, kita akan diberikan resep obat yang langsung dibuatkan dengan teknik meracik obat-obat herbal. Berbagai obat herbal bisa ditemui di sini, mulai dari tumbuhan, hewan, serangga, cacing, dan rendaman arak. Ada juga obat-obatan yang sudah siap minum dan sudah memiliki ijin BPOM. Toko obat yang ada di sini sangat melegenda, ada toko obat tertua di Jakarta yaitu Toko Obat Tay Seng Ho. Meski tak diketahui kapan berdirinya, toko obat ini sudah ada sebelum Apotheek Chung Hwa yang buka pada 1928. Selain itu ada Toko Obat Ban Seng yang berdiri sejak 1933, Toko Obat Hauw Hauw, dan Toko Obat Sinei (Hidup). Rasanya penasaran, bagaimana pengobatan tradisional yang ada di toko-toko obat ini. Setelah pandemi usai, saya ingin kembali dan mencobanya.

Setelah melewati lorong toko-toko obat, kami kemudian menyeberang ke arah Petak Sembilan. Sebelum masuk, Ibek menceritakan tentang sejarahnya kenapa disebut dengan petak sembilan. Nama Petak Sembilan katanya berasal dari rumah petak yang berjumlah sembilan di lokasi ini. Di depan rumah petak itu terdapat warung kopi. Ketika ada orang hendak ke warung kopi ini dan mereka ditanya mau ke mana? Mereka menjawabnya “mau ke petak sembilan”. Sejak itu nama ini terus melekat, meski kini rumahnya sudah tidak ada lagi. Kini daerah yang berada di Jalan Kemenangan Raya ini dikenal sebagai Pasar Petak Sembilan. Salah satu ciri khas pasar ini adalah ornamen lampion warna merah yang tergantung membentang di atas jalanan. Jika sedang hari raya Imlek, akan ada banyak ornamen khas Tionghoa di sini. Pasar ini terbilang sangat lengkap, buka sejak pagi hari dan tutup sekitar jam 8 malam. Sama seperti pasar tradisional lainnya, pasar ini menjual berbagai sayuran dan buah-buahan segar, daging dan ikan, dan juga berbagai jenis makanan yang jarang ditemui di pasar lain, seperti teripang dan katak. Selain juga ada berbagai perlengkapan ibadah orang Tionghoa, seperti dupa dan lilin, serta baju khas Tionghoa. Tak hanya itu, ada berbagai toko kelontong, toko manisan, serta berbagai kuliner di sepanjang Jalan Kemenangan Raya ini.

Salah satu toko tertua di Petak Sembilan adalah Toko Jaya Abadi atau Tjang Thjang Sen. Toko ini sudah ada sejak tahun 1906. Tjang Thjang Sen sendiri artinya Jaya Abadi. Dulu dimiliki oleh Tjang Tien Ling, yang kemudian secara turun-temurun diwariskan kepada anak dan cucunya. Kini yang mengelola Toko Jaya Abadi adalah generasi keempat. Toko yang menempati gedung berlantai dua ini merupakan toko kelontong bergaya supermarket. Untuk masuk ke dalamnya kita melalui jembatan kayu berwarna merah. Barang-barang yang dijual di toko ini berupa bumbu-bumbu masak atau keperluan masak khas Tionghoa. Sayangnya saat kami datang, toko ini masih tutup. Mungkin lain kali saya akan mencoba datang lagi dan masuk ke dalam. Penasaran juga dengan barang-barang yang dijual dan ingin tahu seperti apa kondisi di dalamnya. Nah berhubung sudah cukup panjang cerita perjalanan ke Pecinan Glodok ini, saya akan lanjutkan lagi tulisan berikutnya ya. Sampai jumpa!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s