JAKARTA: Kota Tua di Malam Hari

Kota Tua Jakarta seakan tidak pernah sepi. Bahkan ketika menjelang malam, kawasan ini semakin ramai. Saya sendiri sudah berkali-kali ke kawasan ini, baik di waktu pagi, siang atau malam. Beberapa waktu lalu, saya mengikuti tur Senja di Kota Tua dan sang pemandu merekomendasikan saya untuk mencoba tur di saat malam hari. Katanya sih, pencahayaan di kawasan ini cukup menarik. Untuk menjawab rasa penasaran saya, akhirnya saya ikut tur Old Town Night yang diadakan oleh Jakarta Good Guide pada akhir pekan yang lalu.

Kami semua diminta untuk berkumpul di dalam area Stasiun Jakarta Kota atau dulu disebut dengan Stasiun BEOS. Pemandu kami, Mochi, kemudian menjelaskan secara singkat tentang stasiun yang dibuka pada 1929. BEOS sendiri singkatan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur. Dulu ketika diresmikan, dilakukan secara besar-besaran dengan penanaman kepala kerbau oleh Gubernur Jendral jhr. A.C.D. de Graeff. Ada satu hal yang menambah wawasan saya tentang stasiun kereta api di Indonesia, yaitu angka +4m yang berada di bawah tulisan Jakarta Kota. Dulu saya pikir itu adalah panjang rel yang ada di dalam stasiun, tapi tenyata itu menandakan tinggi stasiun dari atas permukaan air laut. Apalagi kawasan Batavia, tempak stasiun ini berada adalah lokasi yang sering terkena bencana banjir.

Perjalanan berlanjut ke jalan Jembatan Batu, Pinangsia. Di sini Mochi menceritakan tentang sejarah awal Batavia. Nama Batavia dipakai sejak sekitar 1621 sampai 1942. Batavia berasal dari Bataviren van Oranye, suku bangsa di Jerman yang menempati Pulau Bataviren yang juga nenek moyang Belanda. Namun sebelum dinamakan Batavia, ketika Gubernur Jendral J.P. Coen berhasil menaklukkan Jayakarta pada 1619, ia hendak membangun sebuah kota baru dengan nama De Hoorn, yang berasal dari nama kota kelahirannya di Noord Holland. Entah nama Batavia kemudian menjadi lebih popular mengalahkan nama yang telah disiapkan oleh J.P. Coen. Bahkan para pemilik saham VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) menyetujui nama Batavia tersebut.

Mochi kemudian menjelaskan tentang benteng yang mengelilingi Batavia. Dulu terdapat Pintu Besar yang berada tak jauh dari perempatan dekat Museum Mandiri. Dulu pintu ini dimanfaatkan sebagai pembatas antara Batavia dengan wilayah luar Batavia. Dulu bahkan di luar benteng ini masih berupa hutan dan banyak sekali binatang liar seperti harimau dan buaya. Saya mencoba membayangkan kondisi saat itu dan membandingkannya dengan situasi saat ini. Lokasinya sudah dipadati dengan pemukiman dan seakan tidak ada ruang untuk tanaman hijau apalagi harimau.

Selain itu kami juga dijelaskan tentang Gedung OLVEH atau Onderlinge Levensverzekering van Eigen Hulp yang dulu merupakan gedung yang berfungsi sebagai kantor asuransi jiwa. Untuk membandingkan kondisi saat ini dengan situasi kala itu, cukup lihat saja pintu masuk gedung ini. Kita harus berjalan menurun dulu untuk masuk dan pintu ini dulunya sejajar dengan jalanan yang ada di depannya. Kalau sekarang, jalanan menjadi lebih tinggi (bisa jadi karena sering ditinggikan karena takut terendam banjir) daripada tinggi gedung aslinya.

Selanjutnya, kami berjalan menuju ke Museum Mandiri. Dulu museum ini berfungsi sebagai perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang pada 1929 menjadi perusahaan perbankan. Katanya sih, gedung ini cukup angker. Ada semacam Genderuwo yang menjadi penunggu gedung tua ini. Hahaha.

Kami kemudian pindah menuju ke Museum Bank Indonesia. Dulu sebelum menjadi kantor perbankan, gedung ini adalah bekas rumah sakit Bineen Hospitaal. Cerita seram lainnya pun tak kalah seru dengan gedung sebelumnya. Katanya sih, karena dulu ini adalah bekas rumah sakit dan dulu sempat ada wabah penyakit yang menjangkiti penduduk Batavia yang menyebabkan banyak orang yang meninggal di gedung ini.

Setelah mampir ke Museum Mandiri dan Museum Bank Indonesia, kami meneruskan perjalanan ke Kali Besar. Oya, untuk yang ingin berjalan-jalan di lokasi ini pada malam hari, harus ekstra berhati-hati. Sebab jalanan sangat ramai dan trotoar penuh dengan orang-orang yang sedang berjualan. Baiklah, kita berlanjut ke Jembatan Kali Besar. Sejenak kami berhenti untuk melihat halaman belakang Museum Bank Indonesia. Jadi dulu, halaman belakang ini yang menjadi bagian depan gedung. Lokasinya menghadap langsung dengan kanal atau sungai yang ada di depannya.

Tak jauh dari jembatan ini, ada jalan Pintu Kecil. Nah, kalau ini berbeda dengan Pintu Besar. Kalau yang besar, bisa dilalui kereta kuda, sedangkan pintu kecil ini hanya bisa dilalui oleh orang saja. Pintu-pintu ini dijaga oleh penjaga yang akan meminta dokumen bagi siapa saja yang melaluinya. Jadi semacam harus memiliki paspor jika hendak memasuki wilayah Batavia.

Selanjutnya kami berjalan ke arah Gedung Bank Dagang Negara atau yang dulu dikenal dengan Escompto Bank. Mochi sempat menjelaskan tentang ciri khas bangunan yang dibangun oleh pemerintahan Batavia kala itu. Di setiap sudut bangunan, ada semacam plakat yang ditempel di dinding. Mungkin jika jeli, kita bisa menemukan plakat ini di setiap bangunan. Kami langsung berlanjut ke Toko Merah yang tak jauh dari gedung tadi.

Penampakan Toko Merah mungkin yang paling seram dibandingkan bangunan-bangunan yang tadi kami lalui. Selain memang tidak ada pencahayaan, bangunan ini seakan dibiarkan kosong. Padahal dulu sempat dijadikan café, sayangnya bangkrut dan sekarang tidak dimanfaatkan kembali. Sejarah Toko Merah cukup kelam. Lebih lanjut tentang Toko Merah, bisa langsung membaca posting-an saya di Senja di Kota Tua.

Tak lama, kami berjalan ke arah utara. Kami menyempatkan diri berhenti di depan gedung Omni Batavia Hotel atau sekarang disebut de Rivier Hotel. Bangunan yang sedang direnovasi ini juga menyimpan sejumlah cerita horor. Seperti penampakan Noni Belanda di salah satu kamar. Tampaknya ini yang membuat hotel ini menjadi sepi dan semakin terkesan angker.

Jalan-jalan kami kemudian diteruskan ke Jembatan Kota Intan. Jembatan ini dibangun oleh pemerintah VOC pada 1628 di dekat dengan area Sunda Kelapa, tepatnya di wilayah Kali Besar, yang menjadi pusat pelayaran dan perdagangan pada saat itu. Ada banyak nama yang pernah disematkan pada jembatan jungkit ini. Sesuai dengan kejadian yang terjadi pada saat itu berlangsung. Awalnya disebut Engelse Burg atau Jembatan Inggris. Karena jembatan itu dibangun di dekat kubu pasukan Inggris, tepatnya di sebelah Timur jembatan tersebut.

Nah, dari penjelasan Mochi, di area ini dulu berdiri benteng pertama bernama Kasteel Batavia. Sejarah awal Kasteel Batavia dimulai ketika kota pelabuhan Jayakarta dikuasai oleh VOC pada 1619. Benteng milik VOC ini memiliki luas sembilan kali lipat dari benteng Batavia yang baru atau benteng Jacatra dan dilengkapi empat bastion (kubu pengintaian) yang ada di setiap sudut benteng. Nah, salah satu sudutnya bernama Diamant atau Diamond. Nama ini yang kemudian menjadi nama dari Jembatan Kota Intan. Sayangnya bangunan kastil pertama ini sudah tidak utuh. Sebagian bebatuannya digunakan untuk membangun kawasan Batavia yang berada di sekitar Taman Fatahillah. Sedang reruntuhan dan sisanya bisa ditemukan di kawasan Jalan Tongkol. Kalau tidak salah, bangunan ini adalah Gudang Timur dari kastil ini. Malam itu kami tidak menuju ke reruntuhan gudang ini karena akses menuju lokasinya cukup gelap dan ada beberapa preman yang berada di sekitar lokasi.

Setelah dari Jembatan Kota Intan, kami melanjutkan perjalanan ke bangunan Restaurant Raja Kuring yang dulunya bernama Scheepswerven. Oya jangan kaget ketika melintas di jalanan di bawah rel kereta api. Mungkin sebaiknya jalan beramai-ramai. Hehe.

Scheepswerven ini dulunya merupakan toko kayu terkenal yang dibangun pada 1635. Gaya bangunan ini mengadopsi gaya Belanda dan termasuk salah satu bangunan lama yang dibangun di kawasan Sunda Kelapa. Bangunan Scheepswerven ini sekarang lebih dikenal dengan nama Raja Kuring Restaurant yang saat ini difungsikan sebagai restoran. Saat kami datang, sedang ada pesta pernikahan. Jadi kami tidak bisa masuk ke dalamnya. Sayangnya di bagian ujung bangunan ini lumayan hancur karena terpaan angin topan. Hingga sekarang belum dilakukan revitalisasi.

Tak jauh dari restauran ini, berdiri Galangan VOC. Kalau sekarang, bangunan ini berfungsi sebagai café. Sayangnya malam itu tidak buka. Jadi kami hanya bisa melihat bangunan ini dari luarnya saja. Nama asli bangunan ini adalah Copagnies Timmer, en Scheepswerf. Dibangun pada 1628 dengan gaya Neoklasik. Dulunya digunakan sebagai kantor dagang VOC. Bangunan itu kemudian dijadikan gudang barang keperluan galangan kapal di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Gudang ini kemudian menjadi galangan kapal bagi kapal-kapal kecil yang tak tertampung di Pulau Onrust dan tempat menyimpan dan memperbaiki kapal-kapal besar yang akan berlayar.

Kami kemudian menyeberang ke seberang Jalan Pasar Ikan. Di sini berdiri Museum Bahari dan juga Menara Syahbandar. Kami tidak masuk ke dalam museum, karena jam operasionalnya sudah tutup. Jadi kami hanya memasuki halaman depannya saja. Museum Bahari menyimpan berbagai koleki benda-benda sejarah kelautan. Mulai dari kapal dan perahu tradisional, hingga berbagai miniatur kehidupan masyarakat nelayan Nusantara. Pada masa kependudukan Belanda, bangunan ini adalah sebuah gudang yang berfungsi untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-rempah yang merupakan komoditi utama VOC. Di sebelah bangunan yang dibangun pada 1652, berdiri Menara Syahbandar.

Menara Syahbandar dibangun 1839 untuk proses administrasi keluar masuknya kapal sekaligus sebagai pusat pengawasan lautan dan daratan sekitar. Ada yang unik dengan menara ini. Bangunannya agak miring mirip Menara Pisa di Italia. Kenapa miring? Karena lokasinya dekat jalan raya yang selalu dilalui oleh truk-truk kontainer. Hal ini yang membuat menara ini lama kelamaan menjadi miring.

Tujuan kami selanjutnya adalah Pelabuhan Sunda Kelapa. Ini adalah titik terjauh dari rute tur kami malam itu. Untuk masuk, kita cukup membayar Rp2,500 per orang. Walau sudah malam, ternyata pelabuhan ini masih dibuka untuk umum. Daerahnya cukup banyak dilalui truk kontainer, jadi berhati-hati saat berjalan di tepi jalan.

Kala itu nama nama asli wilayah ini adalah Kalapa, karena terdapat banyak sekali pohon kelapa. Pelabuhan Kalapa merupakan pelabuhan Kerajaan Sunda atau yang lebih dikenal saat itu sebagai Kerajaan Pajajaran dan sudah dikenal sejak abad ke-12. Pada masa masuknya Islam dan para penjajah Eropa, Kalapa diperebutkan antara kerajaan-kerajaan Nusantara dan Eropa, hingga akhirnya jatuh ke tangan Belanda.

Di dalam pelabuhan ini kita bisa menjumpai kapal Pinisi, kapal khas Bugis Makassar. Kapal ini dulu yang digunakan untuk mengirim berbagai komoditas ke beberapa pulau hingga ke Eropa. Dulu kapal ini bisa mencapai ke Sungai Ciliwung dan melewati Jembatan Kota Intan, menyusuri kanal-kanal yang dibangun oleh VOC. Kini kapal-kapal ini hanya melayani rute-rute pendek. Oya, dulu pelabuhan ini juga digunakan untuk masyarakat yang hendak naik haji ke Mekah. Hingga kemudian operasional kapal-kapal besar dipindahkan ke Pelabuhan Tanjung Priok. Luas kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa terdiri dari 760 hektar tanah dan 16.470 hektar air, dengan dua dua pelabuhan utama. Pelabuhan utama sanggup menampung hingga 70 kapal pinisi berukuran besar, sedangkan dermaga kedua lebih pendek. Jika ke sini siang-siang, kita bisa melihat aktivitas para kru kapal. Tapi akan sangat panas dan terik. Jadi lebih baik bawa topi atau payung.

Setelah puas melihat kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, kami kemudian menuju ke kawasan Taman Fatahillah. Malam itu suasananya sudah sangat ramai dan penuh dengan pengunjung. Kami tak berlama-lama di sini, karena sebagian besar dari kami sudah pernah atau sering mengunjungi kawasan ini. Perjalanan kami pun berakhir di pusat pemerintahan Batavia ini. Tapi saya masih penasaran dengan cerita tentang Kastil Batavia. Mungkin selanjutnya saya mencoba untuk menjelajahi kawasan ini sekali lagi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s