TANGERANG: Jelajah Kuliner Pasar Lama Tangerang

Berkunjung ke Kota Tangerang rasanya tidak lengkap jika belum mencicipi berbagai kuliner di Pasar Lama Tangerang. Pusat kuliner di Pasar Lama biasanya mulai buka sore hari hingga malam hari atau tengah malam. Lokasinya dibuka dari ujung ke ujung Jalan Kisamaun. Namun karena masa pandemi hanya buka hingga jam 9 malam. Sebenarnya mulai pagi hari sudah bisa kita temui berbagai kedai makanan dan minuman di sini, tapi tak sebanyak malam hari. Berhubung saya selesai ikut walking tour di Pasar Lama Tangerang, malamnya saya langsung lanjut untuk mencicipi berbagai makanan di sini.

Baca: Blusukan ke Pasar Lama Tangerang

Oya, saya sempatkan untuk mencari informasi tentang makanan apa saja yang wajib dicoba di Pasar Lama. Jadi biar bisa fokus mencari gerainya. Ada satu hal yang perlu dicatat kalau ingin mencicipi semua makanan di sini. Datanglah bersama teman, supaya bisa berbagi porsi. Selain itu belilah satu porsi saja di setiap kedai, sehingga bisa mencicipi semuanya. Baiklah, langsung kita cicipi ya!

1. Sate Ayam H. Ishak Pasar Lama

Sate ayam ini adalah pembuka yang wajib dicoba ketika mencoba berbagai kuliner di Pasar Lama. Sate Ayam H. Ishak adalah sate ayam legendaris di Pasar Lama yang sudah ada sejak tahun 1954. Dulu pemilik awal usaha sate ayam ini adalah Haji Ishak, kini dilanjutkan oleh anaknya. Siap-siap antri jika ingin mencicipi sate ayam legendaris ini, bahkan gerai ini menggunakan tiga pembakaran panjang agar bisa cepat menyajikan sate.

Biasanya yang membeli sate ayam ini adalah pelanggan lama dan mereka kebanyakan membungkusnya untuk dibawa pulang. Beruntung saat saya datang tidak begitu mengantri, kemudian saya kemudian memesan satu porsi sate ayam dengan lontong. Tak lama, sate ayam pesanan saya datang. Kalau menurut saya, satenya cukup enak walau tak seluarbiasa itu. Bumbu kacangnya juga cukup enak, karena menggunakan kecap asli Tangerang, yaitu Kecap Benteng merek HS. Oya saya baru tahu jika warung sate ini juga menjual sate kulit dan sate telur muda.

Jam buka: 3 sore – 10 malam

Harga: 1 porsi sate ayam 10 tusuk, dan 2 lontong Rp26.000,-

2. Bubur dan Bakmi Kepiting Hokie

Tujuan berikutnya adalah Bubur dan Bakmi Kepiting Hokie. Gerai ini terbilang baru, karena buka sejak tahun 2013. Nama hokie sendiri diambil dari kata hoki yang dalam Bahasa Tionghoa berarti beruntung. Saya mengetahui bubur ini dari video seorang food vlogger. Meski menjual bubur dan bakmi, saya justru penasaran dengan bubur kepitingnya. Saya kemudian memesan bubur ayam kepiting (kampung) dengan ukuran kecil.

Berbeda gerai bubur yang menyediakan banyak bubur dalam satu panci besar, di sini mereka justru baru akan memanaskan buburnya kalau ada yang pesan. Bubur bertekstur tidak terlalu halus, mirip dengan bubur khas Tionghoa. Selain itu terasa gurih dan wangi. Bubur ini juga dilengkapi dengan suwiran daging kepiting, bakso ikan, daun selada, irisan daun bawang, dan taburan bawang goreng. Menurut saya, bubur ini sangat enak sekali. Bahkan dari semua menu yang saya cicipi, bubur ini masih menduduki peringkat satu makanan terenak di pusat kuliner ini.

Jam buka: 5 sore – 12 malam

Harga: Bubur ayam kepiting (kampung) ukuran kecil Rp33.000,-

3. Bubur Ayam Ko Iyo

Sedikit agak berjalan ke dalam, kita bisa menemukan salah satu gerai bubur legendaris, Bubur Ayam Ko Iyo. Bubur ayam yang berdiri sejak tahun 1966 ini memiliki topping yang unik. Bubur yang dijadikan tak hanya diberi suwiran ayam untuk topping, tapi juga ada potongan cakwe, selada segar, dan tong cai atau sawi asin. Kita juga bisa menambah topping seperti ati ampela dan telur. Saya kemudian memesan satu mangkok bubur ayam porsi kecil dengan tambahan ati ampela.

Waktu buburnya datang, saya pikir tak sebanyak itu, karena porsinya cukup besar dan melimpah. Siap-siap kenyang! Ati ampelanya diberikan cukup banyak, sedangkan potongan selada segar disajikan dalam wadah berbeda. Potongan selada ini yang membuat bubur ini terasa unik, karena jarang sekali saya temui bubur ayam dengan topping seperti ini. Rasanya justru gurih dan segar. Seladanya krenyes-krenyes, menggantikan sensasi kerupuk (karena di bubur ini tidak diberikan taburan kerupuk).

Jam buka: 6 sore – 11.30 malam

Harga: Bubur ayam porsi kecil Rp18.000,- + Ati ampela Rp10.000,-

4. Nasi Kebuli Roti Cane “H. El

Meski Pasar Lama identik dengan masakan khas peranakan, tapi di sini juga ada gerai makanan khas India. Salah satunya adalah Nasi Kebuli Roti Cane Haji El. Penjualnya sendiri juga merupakan keturunan orang India. Saya kemudian mencoba Roti Cane dengan kuah kari kambing. Tak lama, pesanan saya pun datang.

Menurut saya, roti cane ini di luar ekspetasi saya. Karena ukurannya tak terlalu besar. Selain itu roti canenya cenderung berminyak. Namun kuah kari kambingnya menurut saya enak. Rasanya sangat kental dengan bumbu khas India. Sebenarnya kita bisa memesan roti cane original maupun dengan kuah durian. Selain roti cane, gerai ini juga menjual nasi kebuli. Sayangnya saya tak sempat mencicipi, karena takut kekenyangan dan masih ingin mencicipi makanan lainnya.

Jam buka: 4 sore – 12 malam

Harga: Roti cane kari kambing Rp30.000,-

5. Sate Ular Tenda Dua Cobra

Makanan yang satu ini awalnya agak ragu-ragu saya cicipi. Tapi akhirnya rasa ingin mencobanya karena penasaran dengan rasa daging ular dan biawak. Warung Tenda Dua Cobra ini dimiliki oleh Kang Aat yang buka sejak tahun 2002. Di sini mereka menyediakan menu sate dan biawak yang dimasak menjadi sate, sop dan goreng krispy.

Karena penasaran, saya memesan sate ular cobra dan biawak campur. Tak lama pesanan saya pun datang, sate ular cobra dan sate biawak dengan saus kacang di atasnya. Saya langsung mencicipi sate ular cobra, yang menurut saya rasanya mirip daging ayam dan lebih kenyal. Berikut langsung saya cicipi sate biawak, rasanya juga mirip daging ayam. Dibandingkan dengan daging ular, daging biawak lebih terasa padat. Selain itu ada semacam rasa seperti ikan sesaat setelah memakannya. Jika penasaran ingin mencoba kedua menu, pesan menu sate campur. Kita akan mendapat masing-masing lima tusuk. Oya, selain menu tadi di sini juga darah ular, empedu ular dan sumsum ular. Tapi maaf, saya tidak begitu berani mencobanya. Haha. Jika penasaran dengan ular cobra yang tadi dimakan, kita juga bisa melihat langsung ularnya di dalam kandang di belakang tenda.

Jam buka: 4 sore – 9 malam

Harga: Sate campur (ular dan biawak) Rp25.000,-

Bonus: Sebelum selesai berkeliling, saya penasaran untuk mencicipi makanan yang manis. Akhirnya saya memilih serabi kinca durian, dan es duren. Untuk serabinya saya membeli di Serabi Royal, Pasar Lama Tangerang yang posisinya tak jauh dari jalan masuk. Saya membeli 1 kotak yang berisi 2 serabi pandan dan kinca durian. Rasanya pas dan kincanya tidak eneg, selain itu duriannya sangat terasa sekali. Tak hanya itu, karena badan sudah merasa agak panas (mungkin efek makan sate ular), saya lanjut membeli es duren yang lokasinya tak jauh dari tempat saya membeli serabi. Manisnya pas sebagai penutup jelajah kuliner malam itu.

Harga: Serabi kinca durian Rp13.000,- + Es durian Rp12.000,-

Berhubung sudah kenyang sekali, wisata kuliner malam ini harus berhenti dulu. Besok pagi, saya akan mencicipi beberapa makanan yang buka sejak pagi di Pasar Lama. Apa saja yang bisa kita cicipi di pagi hari? Berikut daftarnya!

5. Nasi Uduk & Ketupat Sayur Encim Sukaria

Warung nasi uduk ini termasuk legendaris, karena sudah ada sejak tahun 1960. Nama Sukaria sendiri diambil dari nama Gang Sukaria tempat pertama berjualan. Si Encim yang berjualan terkenal galak, namun pelanggannya tetap rela mengantri untuk menikmati nasi uduk buatannya. Kini warungnya dikelola oleh generasi kedua yaitu Pak Kim Tjiang dan menempati lokasi baru yang sekarang. Saat saya ke sana, saya pikir akan mengantri panjang. Beruntung antriannya pendek, sehingga saya bisa mudah memesan.

Saya langsung pesan dua menu andalan warung ini, yaitu Nasi Uduk dengan Semur Jengkol (bisa juga memesan tanpa semur jengkol) dan Ketupat Sayur. Nasi uduknya ditambahi dengan lauk telur dadar, semur kentang, bihun goreng, bakwan jagung (pilihlah bakwan udang yang jadi andalan), kerupuk, dan irisan timun. Kalau menurut saya dibandingkan dengan nasi uduk Betawi, nasi uduk ini lebih ringan rasanya. Tetap ada rasa gurihnya. Selain itu lauknya bisa dibilang “berbeda” karena ada tambahan potongan timun. Sesuatu yang jarang ditemukan di nasi uduk Betawi.

Untuk ketupat sayurnya terasa lebih gurih dan berbumbu. Lain dengan ketupat sayur yang sering saya cicipi di Jakarta yang cenderung “manis”. Saya kemudian menambahkan telur balado untuk tambahan di ketupat sayur, rasanya jadi makin enak (tapi katanya lebih enak jika ditambah ayam kampung). Selain dua menu ini masih ada satu lagi menu, yaitu nasi ulam. Berhubung tidak mau terlalu kenyang, ya cukup dua menu saja.

Jam buka: 6.30 pagi – 12.30 siang

Harga: Nasi uduk lengkap Rp20.000,- + Lontong sayur Rp20.000,- + Telor 2 Rp10.000,- + Gorengan 2 Rp6.000,-

6. Asinan Sayur Sewan Bedeng

Ingin cari yang segar-segar? Coba saja ke depan Toko Varia. Di sini terdapat dua makanan yang cukup legendaris. Salah satunya Asinan Sayur Sewan Bedeng. Dulu sebelum berjualan di Pasar Lama, asinan sayur ini berjualan di Jakarta. Kemudian berjualan dengan gerobak sejak tahun 1967. Kini usaha asinan sayur dilanjutkan generasi kedua yaitu, Pak Yanto. Ia berjualan di Pasar Lama sejak tahun 2000. Oya, nama belakang asinan ini adalah nama salah satu kawasan pemukiman di Tangerang.

Asinan sayur yang dijual terdiri dari racikan wortel serut, mentimun, tahu, kentang, irisan kol, tauge, sawi asin, kacang tanah, dan siraman saus kacang dan saus gula merah. Tak ketinggalan dengan taburan kerupuk kuning atau kerupuk mi. Kalau dibandingkan dengan asinan sayur yang ada di Jakarta, rasanya cenderung lebih manis. Berbeda dengan asinan khas Jakarta atau Bogor yang cenderung lebih asam.

Jam buka: mulai jam 10 pagi

Harga: Asinan sayur Rp20.000

7. Es Podeng DPN Varia

Nah selain asinan sayur, cobalah ke gerai sebelahnya. Ada Es Podeng DPN Varia. Nama DPN Varia artinya “depan” toko kosmetik Varia. Es Podeng DPN Varia sudah ada sejak 1983. Kita bisa makan langsung di sini dengan menggunakan mangkok porselen kecil. Jika dibawa pulang baru akan dibungkus menggunakan gelas plastik.

Untuk isiannya, kurang lebih lama seperti es podeng kebanyakan, ada potongan roti tawar, cendol, kelapa muda, alpukat dan susu kental manis cokelat. Namun yang membedakan adalah adanya kacang hijau rebus yang menggantikan ketan hitam. Jika cuaca sedang terik, satu mangkok rasanya tidak akan cukup.

Jam buka: 8 pagi – 6 sore

Harga: Es podeng Rp12.000,-

8. Bakmi Ayam Pasar Lama

Tempat yang satu ini memang agak susah dicari. Saya sempat mencari gerainya melalui Google Maps, namun justru lokasinya bukan yang dimaksud. Sebab lokasinya bukan di Jalan Kisamaun, namun Jalan Cilame yang berada di belakang Jalan Kisamaun. Lokasinya agak tersembunyi di balik lapak-lapak penjualan sayuran. Bakmi Ayam Pasar Lama dikenal dengan bakmi ayam dengan porsi mengenyangkan.

Saya langsung memesan satu porsi bakmi ayam dengan pangsit rebus dan bakso. Pesanan saya pun datang. Bakminya bertekstur kenyal dengan taburan potongan daun bawang dan sawi hijau. Potongan daging ayamnya juga cukup melimpah dengan tambahan jamur. Pangsit rebusnya juga lembut. Secara keseluruhan rasanya gurih dan pas dengan lidah saya. Oya, selain bakmi ayam, warung ini juga menjual berbagai menu Chinese food halal. Seperti capcay, nasi tim ayam, dan lain-lainnya.

Jam buka: 5.30 pagi – 2.30 siang

Harga: Bakmi ayam pangsit bakso Rp46.000,- (termasuk 2 teh tawar hangat)

9. Es Buntin

Pemberhentian terakhir, Es Buntin yang sudah sangat melegenda. Lokasinya tak jauh dari klenteng Boen Tek Bio. Nama pemiliknya adalah Lim Bun Tin, ia dibantu sang istri saat meracik es pesanan pengunjung yang datang. Gerai ini sudah berjualan sejak tahun 1980. Ciri khas es ini adalah es serut yang dibentuk seperti kerucut menjulang. Nama gerai ini berawal dari ketidaksengajaan, karena awalnya gerai ini tak ada namanya dan lebih dikenal dari nama penjualnya. Hingga kemudian dikenal dengan sebutan Es Buntin. Es serut ini dijual dengan berbagai topping dan rasa.

Saya sempat bertanya, apa yang menjadi menu andalannya. Ternyata yang populer adalah es campur dan es buah. Akhirnya saya memesan es campur yang berisikan alpukat, kelapa, cincau, pacar cina, cendol, jelly dan susu kental manis. Sebenarnya ada es campur dengan nama unik, seperi Es Putsal atau Es Bumi Hangus. Namun berhubung sudah sangat kenyang dan tidak ingin terlalu banyak minum es, akhirnya saya hanya memesan satu saja. Soal rasa, tentunya sangat menyegarkan apalagi jika diminum saat cuaca terik. Harganya pun sangat bersahabat di kantong.

Jam buka: 7.30 pagi – 4 sore

Harga: Es Campur Rp12.000,-

Selain makanan-makanan tadi, ada beberapa makanan yang belum sempat saya cicipi. Mungkin lain waktu saya bisa datang kembali dan melengkapi jelajah kuliner saya di Pasar Lama dan juga Kota Tangerang. Apa saja yang ingin saya cicipi? Siomay Benteng, Bakmi Medan Kebon Jahe, Laksa Sari Soleh Ali, Mie Ayam Kemuning, Bakso Mas Gino, dan Asinan Lan Jin. Oya, lokasi tempat makan ini masih ada di dalam satu kawasan. Jadi tidak perlu jauh-jauh berjalan. Kalau ingin puas, kalian bisa menginap sambil staycation di Kota Tangerang. Kemarin saya menginap di Yellow Bee Hotel Tangerang. Lokasinya berada di Robinson Plaza Tangerang. Jarak menuju ke Pasar Lama Tangerang sekitar 450 meter. Bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Hotelnya sendiri berada di atas gedung plaza. Kalian bisa meminta kamar dengan pemandangan kota maupun Kali Cisadane yang tepat berada di belakang hotel (sayangnya saya mendapat kamar yang tidak ada pemandangannya, tapi tak masalah karena hanya satu malam saja). Untuk kamarnya terbilang sangat luas (beneran luas sekali). Saking luasnya, jadi terkesan kosong.

Tapi kamarnya terbilang rapi dan nyaman, walaupun agak redup dan pendingin ruangannya tidak begitu dingin. Fasilitas yang diunggulkan adalah rooftop area (sebenarnya bukan rooftop hotel) dengan pemandangan kota. Kita bisa duduk-duduk sambil makan di sini (bawa sendiri ya makanannya). Tempat ini lebih enak didatangi saat sore menjelang malam atau pagi sekalian, karena kalau siang terlalu panas. Oya, selain fasilitas ini. Keunggulan hotel ini adalah lokasinya yang sangat strategis. Di tengah kota dan dekat dengan Stasiun Tangerang, serta dekat juga dengan pusat kuliner Pasar Lama. Baiklah, terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di perjalanan berikutnya ya!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s